Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Kamis, 22 Agustus 2013

KEMBANGKAN DIRI ANDA SELUAS DUNIA




PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
  Drs.Soleh Amini Yahman.Psi. MSi*

Kenalilah diri anda untuk dapat mengenal orang lain. Kenalilah orang lain untuk mengembangkan diri Anda


I

            Pribadi atau kepribadian adalah merupakan istilah yang sudah sangat populer dalam perbendaharaan kata (vocabulary) kita sehari-hari. Namun demikian kita masih juga sering salah dalam memberikan arti terhadap istilah kepribadian itu sendiri. Dalam kamus orang awam (non profesional), kepribadian sering diartikan hanya sekedar sebagai ciri khas yang melekat pada diri seseorang yang biasanya nampak /tampak  atau muncul dalam perilaku sehari-hari. Dengan kata lain , kepribadian sering dimaknai sebagai ketrampilan sosial atau kecakapan sosial . Dari sini kepribadian individu  dinilai berdasarkan kemampuan individu dalam memperoleh reaksi-reaksi positip dari berbagai orang dalam berbagai keadaan. Dalam pengertian yang demikian ini sekolah-sekolah atau kursus-kursus yang mengkususkan menyiapkan orang untuk memasuki dunia ‘glamuor’ mengartikan istilah kepribadian dengan pengertian tersebut ketika menawarkan kursus-kursus “latihan/pengembangan kepribadian” . Pemaknaan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, karena perilaku dan kecakapan sosial manusia memang merupakan salah satu cerminan atau  manifestasi dari kondisi kepribadian seseorang. Namun demikian kita tidak bisa melakukan assesment kepribadian hanya dari perilaku yang tampak saja.
            Dalam arti yang lebih luas, kepribadian diartikan sebagai sutau totalitas psikofisik dan sosial . Artinya kepribadian atau personality adalah merupakan suatu totalitas dari suatu sistem psikofisis dan sosial yang terdiri atas persenyawaan unsur kognitif, unsur afektif dan unsur konatif yang terkombinasikan dengan unsur sosial budaya sebagai unsur yang berada di luar diri manusia. Dari persenyawaan itulah terbentuk suatu pola kepribadian (personality patern) yang sifatnya sangat relatif dan personal. Ketiga unsur tersebut secara bersama-sama membentuk kepribadian seseorang. Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri secara ekslusif dalam membentuk kepribadian manusia , tetapi dari ketiga unsur tadi ada yang lebih dominan dibanding unsur lainnya dalam persenyawaannya . Dominansi salah satu unsur inilah yang akan memberi ciri khas (atribut) pada perilaku seseorang sehingga seseorang disebut berkepribadian begini atau berkepribadian begitu.
            Pribadi atau kepribadian yang melekat pada seseorang bukanlah merupakan produk jadi yang telah dibawa seseorang sejak lahir. Kepribadian ada dan tumbuh berkembang pada diri seseorang adalah melalui proses belajar sosial , terutama belajar melalui proses belajar imitasi (social learning & imitation). Oleh karena itu kepribadian seseorang itu dapat dibentuk dengan intervensi-intervensi tertentu, baik intervensi internal maupun intervensi ekternal melaluii proses belajar (learning process). Artinya kepribadian itu sifatnya tidak menetap  seumur hidup, kepribadian seseorang bisa berubah sejalan dengan berubahnya usia dan pengalaman yang diperolehnya. Semakin dewasa usia seseorang biasanya kepribadiannya juga akan semakin mature atau matang . Perlu dicatat sekali lagi bahwa kepribadian seseorang itu bukan merupakan suatu bakat yang sifatnya bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah lagi. Kepribadian akan berkembang dan dibentuk karena adanya sentuhan dari lingkungan, pengalaman dan motivasi serta budaya (adat, norma, hukum dan sebagainya).
            Dalam setiap diri individu pasti tersimpan potensi positip maupun potensi negative. Kedua potensi tersebut mempunyai peluang yang sama besar dalam memepengaruhi pembentukan dan pengembangan kepribadian seseorang. Bila individu berada dalam lingkungan yang positif dan banyak memperoleh pengalaman positip maka sudah tentu pribadi yang positip yang akan berkembang dalam dirinya. Mengapa ? Sebab lingkungan dan pengalaman sangat dominan mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian.

II
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
            Secara garis besar , faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian dalam diri seseorang dibedakan dalam dua kategori faktor, yaitu faktor-faktor yang sifatnya internal dan faktor-faktor yang sifatnya ekternal.
1.      Faktor Internal : Adalah segala sesuatu yang berasal atau bersumber dari diri individu sendiri yang mempengaruhi proses persenyawaan unsur-unsur psikofisik sehingga terbentuk pola kepribadian tertentu. Faktor-faktor internal tersebut antara lain :
·         Gen atau keturunan
·         Self Perception (persepsi diri)  yaitu bagaimana seseorang mempersepsikan , menilai diri dan potensi yang ada pada dirinya sehingga dengan penilaian dan persepsinya tersebut individu akan mudah mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
·         Self control  atau kontrol diri (kontrol emosi, kontrol perasaan, kontrol perilaku dan lain-lain)
·         Self concept (konsep diri) yaitu bagaimana seseorag memandang dan menempatkan dirinya  sendiri didalam suatu situasi yang ada di sekelilingnya.
·         Self efikasi atau efikasi diri, yaitu seberapa jauh seseorang merasa yakin bahwa dirinya mampu dan bisa mengerjakan sesuatu yang menantang. 
2.      Faktor Ekternal :  adalah faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengembangan kepribadian yang berasal dari luar diri indvidu itu sendiri. Diantara faktor-faktor ekternal tersebut antara lain :
·         Faktor Pendidikan (formal maupun non formal)
·         Lingkungan sosial, yaitu lingkungan tempat terjadinya  interaksi sosial.  lingkungan keluarga, peer group/kelompok sebaya, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan sebagainya.
·         Faktor ekonomi
·         Faktor demografi dan geografi
·         Faktor sosial , Budaya dan religiusitas
·         Faktor idiologi / politik
Seberapa besarkah masing-masing faktor di atas memberikan kontribusi terhadap proses perkembangan kepribadian ? Secara pasti tidak atau belum diketahui prosentase kwalitatif nilai kontribusi faktor ekternal dan internal terhadap perkembangan kepribadian. Namun yang pasti antara faktor-faktor ekternal dan internal tersebut saling mempengaruhi dan bersama-sama menentukan perkembangan kepribadian seseorang.
Tipe-Tipe Kepribadian
            Secara teorits kita banyak mengenal berbagai macam type kepribadian yang biasa disebut dengan istilah “tipologi kepribadian”. Untuk keperluan kegiatan ini tampaknya tidak terlalu penting bagi kita untuk membedah soal-soal tentang berbagai tipologi kepribadian tersebut. Dalam kesempatan ini hanya akan kita bahas dua tipe kepribadian yang sudah sangat populer bagi kalangan masyarakat awam yang sering berbincang tentang “kepribadian”, yaitu tipe keribadian “terbuka” atau ektraversi dan kepribadian yang “tertutup” atau introversi.
·         Kepribadian terbuka (Ektraversi)  : kepribadian ektrovert dicirikan dengan perilaku dan kecakapan sosial berikut ini :
·         Mudah bergaul dan mendapatkan teman baru
·         Mudah menyesuaikan diri (adaptif) dengan lingkungan baru
·         Berpenampilan ceria
·         Empatik dan simpatik
·         Sentimentil dan penuh perasaan (afektif)
·         Pemaaf
·         Mempunyai need of affiliation tinggi (suka berkumpul)
·         Tidak tahan terhadap kegiatan-kegiatan yang sifatnya rutin (mudah/cepat bosan)
·         Kepribadian yang tertutup (introversi) : Kepribadian introvert dicirikan dengan perilaku dan kecakapan sosial berikut ini  :
·         Cenderung pendiam
·         Kurang suka pada keramaian dan suasana hura-hura
·         Kurang suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja sama
·         Penampilannya bisa-biasa saja (dalam arti tidak reaktif - responsif)
·         Mempunyai tingkat toleransi emosi yang tinggi (tegar emosinya )
·         Need of Affiliation-nya datar-datar saja (tetapi bukannya tidak ada)
·         Relatif tahan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menuntut rutinitas
·         dan ketelitian dan endurance  (ketahanan) yang tinggi.
·         Terus terang dan tanpa basa-basi.

Ditinjau dari bentuk hubungan relationship, tipe keribadian tadi dibedakan menjadi tiga bentuk :
1.      Type kepribadian “ Compliant”.  Karakteristik khas dari tipe kepribadian ini adalah adanya dorongan atau kebutuhan yang begitu kuat untuk senantiasa menyenangkan dan menyesuaiakan diri secara total pada keinginan orang lain. Sehingga tipe keribadian compliant ini dalam hubungannya dengan orang lain biasanya menampkakan gaya kerja pelayan*. Sistem nilai dan asumsi  (SINA) yang dianut oleh tipe kepribadian ini adalah “berbuat baik pada orang lain pasti akan memperoleh kebaikan pula”.
2.      Type kepribadian “Agresif”. Karakteristik khas pada sifat kepribadian ini adalah kebalikan dari tipe kepribadian compliant tadi. Strategi yang dipergunakan dalam berhubungan dengan orang lain ditandai adanya sikap menentang orang lain. Lingkungan atau orang-orang yang ada di luar dirinya, oleh orang yang bertipe keribadian ini dipersepsikan/dinilai sebagai penuh bahaya, mengancam dirinya. Oleh karena itu hanya dengan cara menentang setiap oranglah maka sikap dan perilaku orang lain yang dianggap membahayakan tersebut dapat ditiadakan atau dikurangi.
3. Type kepribadian “Menghindar”. Karakteristik khas yang melekat pada tipe kepribadian ini adalah perilaku mengambil jarak terhadap orang lain. Orang bertipe kepribadian ini cenderung hatai-hati dalam membangun relasi dengan orang lain, baik yang sudah dikenalinya apalagi yang belum dikenalnya.Orang dengan tipe kepribadian ini tidak akan membangun relationship dengan orang lain bila memang benar-benar sangat terpaksa atau dipaksa membutuhkan. Tipe kepribadian ini tidak ingin terlibat dengan orang lain karena orang lain  dipersepsikan akan menyusahkan atau terlalu banyak menuntut , sehingga satu-satunya cara yang dapat dipilih ialah menghindarkan diri dari keterlibatan (emosional) dengan orang lain. Dalam hubungan dengan orang lain tipe kepribadian ini biasanya menggunakan gaya kerja* Seniman dengan Sina “saya tidak mengganggu orang lain dan orang lain jangan menggangu saya” .
            Manusia bukanlah mesin, sehingga tipe-tipe kepribadian tersebut tidak secara permanen melekat pada  diri manusia sebagaimana suatu sprepart  melekat pada suatu mesin. Setiap orang pada saat-saat tertentu  memilih salah satu strategi dalam berhubungan dengan orang lain. Masalah akan timbul bila strategi yang diambil atau harus diambil tidak sesuai dengan tipe kepribadiannya. Masalah yang timbul inilah yang kerap kali menimbulkan konflik interpersonal dan intrapersonal.

III
Bagaimana Mengetahui atau Melihat Tipe Kepribadian ?
            Tidak bijaksana bila dalam melihat atau menentukan/menilai kepribadian seseorang hanya dari perilaku nampak yang diperlihatkan  seseorang saja, lebih-lebih bila hasil penilaian kepribadian tersebut akan kita gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pengambilan keputusan yang penting. Misalnya untuk keperluan promosi jabatan, rotasi pekerjaan, seleksi pekerjaan dan sebagainya.
            Penilaian kepribadian tidak bisa hanya kita dasarkan pada ‘extrinsic performance’  saja , sebab bisa jadi kita akan terjebak pada ‘hallo effect’ dan unsur ‘persona’ yang melekat pada diri orang yang kita nilai. Perlu kita ingat bahwa kepribadian adalah abstrak yang merupakan suatu sistem yang terdiri atas aspek kognitip, afektif dan konasi yang akhirnya menimbulkan perilaku (action behavior). Oleh karena itu personality tidak bisa kita nilai hanya dari action behavior-nya saja.
      Ada beberapa pendekatan dalam melakukan assesment kepribadian  yaitu: Pendekatan Psikodiagnostika ; pendekatan psikodiagnostika ini biasanya dilakukan oleh profesional dibidang psikologi dengan cara menggunakan instrumen-instrumen psikometri dan instrumen-instrumen psikodiagnostika lainya guna memperoleh gambaran kepribadian seseorang atau sekelompok orang.
1.      Pendekatan orientasi tugas / Job Oriented Approach : yaitu upaya untuk mendapatkan gambaran kepribadian dalam kaitannya dengan suatu pelaksanaan  tugas pekerjaan tertentu. Pendekatan orientasi tugas ini antara lain berupa role playing (bermain peran) On Job Training, Magang, praktek kerja dilingkungan pekerjaan.
2. Study biografi atau studi kesejarahan atas kehidupan seseorang. Dengan kegiatan ini observer akan menemukan konsep, prinsip, pandangan hidup, latar belakang, dari kehidupan seseorang dalam kaitannya dengan action performance-nya dimasa lalu dan di masa sekarang. Dengan demikian maka diharapakan observer dapat merekonstruksikan gambaran kepribadian dari seseorang yang sedang dinilai kepribadiannya. Data-data tentang biografi ini bisa dibaca dari curikulum vitea/ daftar riwayat hidup atau sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bagaimana Pribadi yang tercerahkan ?
            Orang yang hidup dengan pribadi yang tercerahkan adalah orang yang sehat secara jasmani dan rohani, Kesemaptaan jasmani dan rohani yang sehat tadi ditandai dengan adanya kemampuan untuk memberdayakan (empowerment) semua potensi positip yang ada pada dirinya secara wajar. Secara spesifik, pribadi yang tercerahkan dicirikan dengan karakteristik sebagai berikut :
1.      Produktif, dalam arti bisa bekerja secara wajar walau ia berada dalam situasi persaingan (tidak kemrungsung, ngoyo dan  membabi buta).
2.      Hidupnya tidak di buat-buat atau penuh dengan basa-basi.
3.      Mampu tampil apa adanya dalam arti wajar dan sesuai dengan keadaan dirinya .
4.      Mengetahui, menyadari dan mengenali potensi dirinya, dan ia bisa mengoptimalkan potensinya tersebut secara wajar tidak berlebih-lebihan
5.      Tidak minder ketika berada pada lingkungan yang dianggap lebih unggul.
Ora kagetan, ora nggumunan dan ora /ojo dumeh.
Bagaimana Tipe Kepribadian Yang Baik ?
            Akhirnya pertanyaan yang muncul atas uraian tentang tipe kepribadian tadi adalah , mana diantara tipe-tipe kepribadian sebagaimana disebutkan di atas tadi yang paling baik ?
            Baik atau tidak baik dari sutau bentuk atau tipe kepribadian adalah bersifat relatif. Artinya untuk pekerjaan dan profesi tertentu memerlukan tipe kepribadian tertentu pula . Kita tidak bisa menempatkan bahwa tipe kepribadian Z lebih baik dari pada tipe kepribadian X misalnya. Tujuan penilaian tipe kepribadian adalah untuk mengembangkan kepribadian tertentu sehingga kepribadian dan potensi yang melekat di dalamnya bisa optimal. Dalam jangkuan yang lebih spesifik lagi, tujuan assesment kepribadian adalah untuk  dapat menempatkan seseorang pada tempat yang paling sesuai dengan kepribadiannya. Dengan demikian diharapakan yang bersangkutan akan bisa lebih produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya.
            Type kepribadian dikatakan baik bila ia dapat selaras dengan perilaku dan lingkungannya, sedangkan kepribadian dikatakan tidak baik bila ia menimbulkan ketidakseimbangan dari perilaku dan lingkungannya.
IV
Kepribadian dan Model Komunikasi Sosial
            Dalam perspektif psikologi komunikasi, term komunikasi diartikan bukan hanya sekedar proses penyampaian pesan, tetapi merupakan “social exchange process”, yaitu proses pertukaran informasi-informasi social yang antara lain meliputi pertukaran informasi cultural, nilai (values), etika, etiket, keyakinan, kepercayaan, adat, tata susila dan lain-lain sebagainya. Karena kepribadian manusia terbentuk oleh perpaduan antara unsur internal dan ekternal, maka pola kepribadian seseorang akan berpengaruh pula terhadap model-model komunikasi sosialnya. Dengan kata lain corak kepribadian akan mempengaruhi mekanisme dan model komunikasi social yang dipergunakannya.
            Dalam konsep ini maka keberhasilan komunikasi social seseorang selain dipengaruhi oleh dominansi corak kepribadiannya, juga dipengaruhi oleh kekuatan kepribadian tersebut dalam membangun self adaptation power (kemampuan beradaptasi diri dengan lingkungan) . Oleh karena itu guna mempertajam visi personalitas kepribadian seseorang perlu dilakukan proses pembelajaran komunikasi social dengan cara mengembangkan suatu model pembelajaran lingkungan sosio cultural yang tidak hanya melibatkan orang-orang terdekat (in group), tetapi juga perlu melibatkan orang-orang yang dianggap masih asing (out group) tetapi memiliki akses besar untuk dilibatkan dalam pembentukan komunitas social yang baru. Dengan cara yang demikian ini maka besar kemungkinan terbetuknya kepribadian yang mengakses pada terbetuknya pola komunikasi social yang adaptif dan konstruktif, sehingga proses penyampaian pesan akan berhasil, karena tidak terjadi benturan nilai social dan nilai kebudayaan. 


Drs. Soleh Amini Yahman. M.Si
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Konsultan psikologi pada Biro konsultasi dan pemeriksaan psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani tromol Pos 1 pabelan Surakarta, telphone 0271 – 717417. 402. Personal contact. 08164271652

 

1 komentar: