Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Tampilkan postingan dengan label psikologi Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

THE DIFFRENCES OF THE RELIGIOUS ORIENTATION VIEWED FROM THE EDUCATIONAL INSTITUTION


THE DIFFRENCES OF THE RELIGIOUS ORIENTATION VIEWED FROM THE EDUCATIONAL INSTITUTION

Soleh Amini Yahman


ABSTARCT
In the late of twentieth century, the issues of the improvement of the human resources quality become very important to be implemented in the life of society, and nation. What the quality of human resource means is the quality of knowledge, faith and obedience. One of the efforts which is carried out for the improvement of the human resource quality is the empowerment of the educational institutions, especially the public religiously educational institutions.
The aim of the research was to determine the differences of the religious orientation among the students of the Islamic boarding school, the students of the state Islamic high school and the students of the private Islamic high school.
The number of the research subjects were 528 students consisting of the students from the three educational institutions. The subjects were female and male students of 16 to 22 of age. The purposive random sampling technique was used to select the subjects
The data collection was carried out by using the orientation scale of religion. The arrangement of the scale was based on the assessment of Hunt and King (1977) toward the Intrinsic-Extrinsic Scale of Allport-Feagin. The basic pattern of the measurement in the religious orientation scale follows the pattern of Likert scale method. The item validity coefficient of the scale ranged from 0,491 (the highest) and 0,172 (the lowest) and the reliability coefficient was 0,792.
The data analysis was carried out by using the quantitative technique of the non-parametric statistic namely one way anava Kruskal-Wallis. It was found that the was a significant differences in religious orientation among the students of the Islamic boarding school, the state Islamic high school, and the private Islamic high school. Based on the result of the research, the religious orientation of the students of the Islamic boarding school was very intrinsic, and the religious orientation of the students of the Islamic high school was very extrinsic. 96
The results of the research concluded that the educational institution gives contribution in forming the religious orientation of the students. However, the educational institution was not the only factor which influences the religious orientation of the students.

Key word: religious orientation, human resource, public religiously educational, intrinsic- extrinsic orientation.


Perbedaan Orientasi Keagamaan Ditinjau Dari
Institusi Pendidikan Islam

The Differences Of The Religious Orientation Viewed
From Islamic The Educational Institusional

Soleh Amini

Pengantar
Isu tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia pada akhir abad ke-20 menjadi sangat penting untuk segera diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kualitas sumber daya manusia yang dimaksudkan adalah kualitas dalam keilmuan, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang maha esa. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualaitas sumber daya manusia adalah dengan memberdayakan lembaga-lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan yang mempunyai latar belakang ilmu pengetahuan umum dan keagamaan sekaligus.
Sejalan dengan isu tersebut, dalam dekade tahun 90-an institusi atau lembaga-lembaga pendidikan keagamaan semacam pondok pesantren dan sekolah-sekolah umum yang berlatar belakang keagamaan mengalami booming. Dalam dekade tersebut terlihat adanya peningkatan antusiasme kalangan muda untuk belajar atau bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan agama atau di lembaga-lembaga pendidikan umum yang mempunyai latar belakang agama. Hal itu tampak dari maraknya kehidupan di berbagai pondok pesantren yang selama ini diidentikkan dengan kehidupan kaum tradisionalis masyarakat pinggiran.
Sejalan dengan meningkatnya ghiroh keagamaan tersebut, sejumlah pondok pesantren mulai membenahi diri menjadi lembaga pendidikan modern tanpa harus meninggalkan identitas kepesantrenannya, demikian pula dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam non pesantren. Dimulai dari titik ini, masyarakat dapat menyaksikan hadirnya sejumlah pondok pesantren modern dan sekolah-sekolah Islam swasta yang sangat diminati masyarakat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Yang menjadi pertanyaan dari fenomena ini adalah apakah meningkatnya ghiroh keagamaan tersebut benar-benar karena timbulnya kesadaran keagamaan di kalangan generasi muda, atau sekedar trend saja, atau karena meningkatnya kecemasan manusia atas perkembangan dunia yang semakin modern dan industrialis.
Untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, maka perlu diketahui alam fikiran, aspirasi dan motive dari generasi orang tua santri atau siswa yang melarbelakangi perginya para pemuda untuk belajar atau memasuki pesantren dan lebih mendalami ilmu-ilmu keagamaan. Dari sudut pandang ini, tampaknya masyarakat tertarik pada lembaga pesantren terutama karena pondok pesantren merupakan lembaga yang mendukung nilai-nilai agama, yang di kalangan masyarakat agraris terasa amat dibutuhkan untuk bisa mempertahankan hawa segar masyarakat pedusunan. Sedangkan pada masyarakat kota, kebutuhan akan agama nampaknya lebih banyak dilatarbelakngi oleh pandangan bahwa pergaulan hidup di kota-kota telah mengalami semacam polusi yang membahayakan perkembangan pribadi dan pendidikan anak-anak. Oleh karena itu banyak orang tua tertarik untuk menitipkan anak-anaknya kepada para kiai agar mendapatkan bimbingan hidup yang baik ( Rahardjo, 1995). Pada sebagian keluarga muslim ada semacam tradisi yang mencita-citakan salah seorang anaknya ada yang menjadi pengabdi dan penyiar agama. Atas dasar itulah keluarga kemudian mengirimkan anaknya ke pondok pesantren atau ke lembaga pendidikan agama lainnya untuk menuntut ilmu. Dengan memasuki lembaga pendidikan keagamaan pesantren maupun non pesantren, mereka akan memiliki nilai lebih (value added), yaitu mereka tidak saja memiliki kualifikasi di bidang intelektual tetapi juga spiritual keagamaan.
Pendidikan merupakan salah satu kunci pembangunan sumber daya manusia. Para pendidik, sosiolog dan ahli-ahli ilmu sosial lainnya sepakat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor penentu yang sangat penting dan strategis dalam menentukan eksistensi kehidupan suatu bangsa di hari-hari yang akan datang. Oleh kerena itu sangat tidak berlebihan bila pendidikan ditempatkan sebagai suatu human investement untuk melangsungkan pembangunan nasional dan tempat menyiapkan kader-kader pembangunan handal. Oleh karena itu dalam kontek ini pendidikan bukan sekedar merupakan proses pengajaran kognitif formalistik saja, tetapi juga merupakan proses mental yang berupaya mendesain anak didik menjadi sosok yang berkepribadian unggul. Selain berilmu mereka juga dididik untuk beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, berbudaya dan berwawasan kebangsaan. Dengan konsep pendidikan yang demikian ini maka tujuan pembangunan nasional akan terwujut dalam kehidupan bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan. Adapun tujuan pembangunan nasional Indonesia pada pembangunan nasional jangka panjang tahap kedua ini dititik beratkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ditunjang dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan kemajuan iptek. Untuk itu faktor manusia menjadi sasaran utama pembangunan nasional. Kualitas manusia Indonesia paling tidak harus meliputi kualitas kepribadian, kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha esa (Thoha, 1999)
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang tidak terlepas dari persoalan dan masalah sumber daya manusia yang unggul ini. Menyadari hal tersebut maka pendidikan menjadi prioritas penting dalam perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Di Indonesia pendidikan diposisikan sebagai suatu upaya untuk membentuk anak didik dalam perkembangannya menuju kedewasan jasmani dan rohani (Ludjito,1992). Kedewsaan jasmani yang dimaksudkan adalah pertumbuhan yang sehat secara maksimal. Sedangkan kedewasaan rohani adalah pertumbuhan rohani (mental development) yang mencakup aspek kognitif dan afektif, atau dalam istilah bahasa Indonesia cipta, karsa dan rasa. Pada sisi yang lain, pendidikan juga dipandang sebagai suatu proses pertumbuhan yang di dalamnya terjadi proses pemberian bantuan kepada individu unuk mengembangkan kekuatan, bakat, kemampuan serta minatnya. Dengan demikian pendidikan merupakan pemberian kesempatan kepada seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap aspek-aspek kehidupan modern, yaitu suatu pola kehidupan sosial yang menghormati nilai-nilai keterbukaan, individualitas dan progeresif berhadapan dengan pola kehidupan sosial tradisional (Iriani, 1992).
Di Indonesia, pendidikan agama telah lama mendapatkan perhatian dari para pemimpin dan pendiri negara. Pendidikan agama telah dimulai sebelum kemerdekkan Repubulik Indonesia diproklamasikan. Yaitu sejak terbentuknya panitia kecil bagian pendidikan dan pengajaran dari Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam salah satu rekomendasinya panitia tersebut menyebutkan bahwa pembangunan pendidikan dan pengajaran harus bersendikan pada nilai-nilai agama dan kebudayaan bangsa guna menuju arah keselamatan dan kebahagian masyarakat (Ludjito, 1992). Tekad ini sejalan dengan upaya para pejuang dan pemimpin umat Islam yang dengan berbagai rintangan dan ancaman penguasa penjajah Belanda, telah mendirikan berbagai lembaga pendidikan agama berupa pondok pesantren, madrasah dan berbagai bentuk lembaga pendidikan yang didirikan oleh organisasi-organisasi keagamaan semacam Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Al-Washliyah dan sebagainya. Kehadiran-kehadiran lembaga-lembaga pendidikan ini merupakan pelopor dari pendidikan agama (Islam) di Indonesia yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pondok pesantren merupakan salah satu sistem pendidikan nasional (Suyoto, 1988).
Agama sebagai sesuatu yang bersifat universal, oleh para pemeluknya diakui sebagai way of life. Oleh karena itu para pemeluk agama selalu menempatkan pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai keagamaan pada posisi yang amat strategis dalam mengatur kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Bila asumsi di atas menilai bahwa pendidikan keagamaan yang berimtaq sebagai penentu segala-galanya bagi vested intersted manusia di dunia, maka pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai keagamaan tidak hanya dipandang sebagai sarana pemuas kebutuhan manusia yang hanya sesaat di dunia, melainkan menjangkau kepentingan manusia di masa depan. Dengan kata lain, pendidikan umum yang lepas dari orientasi nilai-nilai agama lebih berorientasi pada antroposentris, sedangkan pendidikan keagamaan lebih berorientasi pada nilai-nilai yang bersifat theocentris. Artinya pendidikan umum dengan latar belakang keagamaan (seperti sekolah-sekolah Islam swasta dan madrasah aliyah negeri), tidak akan kehilangan unsur pokok dalam kehidupan individu dan masyarakat, yaitu dimensi kerohanian dan spiritualitas (Langgulung, 1988)
Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini timbul penilaian dan sikap kontroversial terhadap isu yang berkenaan dengan pendidikan Islam. Pertama, Penilaian dan sikap yang optimistik, yaitu suatu sikap yang banyak mengharap kahadiran lembaga pendidikan Islam dengan berbagai institusinya akan membawa pencerahan bagi peningkatan kualitas sumber daya umat ke arah yang lebih baik. Kedua, penilaian dan sikap yang pesimistik, yaitu suatu sikap yang kontra positip terhadap peranan yang diambil oleh pendidikan Islam dalam membangun peningkatan kualitas sumber daya umat.
Penilaian dan sikap yang pertama tadi terbukti dengan semakin kokohnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga pendidikan umum keagamaan. Hal itu terbukti dari maraknya kegiatan proses belajar mengajar di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan Islam dan pondok pesantren, baik yang berada di kota-kota maupun di daerah pedesaan. Tingginya kepercayaan masyarakat tersebut disebabkan karena institusi pendidikan Islam model sekolah umum agama, baik yang ada di luar maupun di dalam pesantren tidak saja mengemban tugas mulia yang mencakup pengembangan aspek intelektual, kultural dan kemampuan fisik jasmaniah, melainkan juga mencakup dimensi nilai-nilai transedental dan pembinaan kepribadian manusia itu sendiri (Mudzahar, 1992). Dengan kata lain, citra yang dikembangkan lembaga-lembaga pendidikan Islam adalah untuk melahirkan insan-insan atau sumber daya manusia yang cerdas disertai sikap mental yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa.
Pada penilaian dan sikap yang kedua, yaitu sikap pesimistis terhadap pendidikan Islam, berpandangan bahwa pendidikan Islam saat ini telah kehilangan moral force dan elan vital serta ruh keislamannyanya. Hal tersebut terbukti adanya kecenderungan pendidikan Islam yang belakangan ini lebih berorientasi pada selera konsumen. Blue print atau cetak biru lembaga pendidikan Islam pun tidak lagi ditentukan oleh pengelolanya, yaitu umat Islam, melainkan terus menerus bergantung pada penentu lapangan kerja. Oleh Karena itu tidak heran bila banyak pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya yang berlomba-lomba membangun lembaganya dengan pendekatan modern dan cenderung meninggalkan nilai-nilai tradisional khas pesantren (Abdullah, 1996).
Berangkat dari kontroversi inilah penulis merasa perlu dan tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan orientasi keagamaan pada siswa-siswi atau santriwan dan santriwati yang menempuh pendidikan formalnya di lembaga- lembaga pendidikan keagamaan seperti pondok pesantren, sekolah Islam swasta dan madrasah aliyah negeri. Penelitian ini penulis beri judul “Perbedaan Orientasi Keagamaan Ditinjau Dari Institusi Pendidikan”.
Penulis mengakui, memang sulit untuk mengungkap secara tepat apakah ada hubungan atau pengaruh pendidikan agama di lembaga pendidikan terhadap jiwa keagamaan atau orientasi keagamaan para anak didik. Berdasarkan penelitian Gillesphy dan Young, sebagaimana di kutip Jallaludin dan Ramayulis (1993), diketemukan fakta bahwa pendidikan agama yang diberikan di lembaga pendidikan ikut berpengaruh dalam pembentukan jiwa keberagamaan (religious orientation) anak. Pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan pada anak, namun demikian besar kecilnya pengaruh tersebut sangat tergantung pada berbagai faktor yang dapat memotivasi anak didik untuk memahami nilai-nilai agama. Sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan-kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.
Tujuan penelitian ini secara metodologis adalah untuk mengetahui perbedaan orientasi keagamaan antara siswa santri pondok pesantren, siswa madrasah aliyah negeri, siswa pada sekolah-sekolah umum yang berlatar belakang pendidikan agama Islam ( sekolah Islam swasta).
Secara praktis, penelitian ini akan memberikan kontribusi riil dalam pembangunan pola dasar pendidikan keagamaan pada sekolah umum. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk memberikan gambaran yang tepat tentang kondisi orientasi keberagamaan para siswa santri di pondok pesantren, madrasah aliyah negeri dan siswa pada sekolah-sekolah Islam swasta, sehingga nantinya dapat dibentuk suatu pola atau plat form pendidikan yang idial pada ketiga bentuk lembaga pendidikan tersebut, sehingga tujuan menciptakan sumber daya manusia yang beriptek, berimtaq, sehat jasmani rohani dapat terwujud.
Cara Penelitian
Subyek penelitian ini melibatkan 528 subyek yang terdiri atas siswa santri pondok pesantren, siswa madrasah aliyah negeri dan siswa sekolah Islam swasta. Subyek penelitian memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Beragama Islam, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, berusia antara 16 sampai 22 tahun, masih tercatat sebagai siswa atau santri aktif, dan khusus subyek yang berasal dari pondok pesantren disyaratkan pula harus tinggal di dalam pondok pesantren.
Cara pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purpusive random sampling. Dengan teknik ini semua siswa atau santri yang memenuhi kriteria atau persyaratan yang telah ditetapkan akan memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi subyek penelitian.
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket, yang penulis beri nama angket skala orientasi keagamaan. Angket skala orientasi keagamaan ini disusun berdasarkan penafsiran Hunt dan King (1977) terhadap Intrinsic-Extrinsic Scale dari Allport–Feagin. Skala ini tersusun atas aspek-aspek sebagai berikut : (a) personal vs institusional, (b) unselfish vs selfishness, (c) relevansi terhadap keseluruhan kehidupan, (d) Kepenuhan penghayatan keyakinan, (e) pokok vs instrumental (f) asosiasional vs komunal dan (g) keteraturan penjagaan perkembangan iman. Pola dasar pengukuran skala orientasi keagamaan ini mengikuti pola metode Likert, dimana dalam menjawab pernyataan-pernyataan dalam angket, subyek diberikan lima option pilihan jawaban dengan kategori jawaban sebagai berikut ; Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Aitem-aitem yang ada di dalam angket dibedakan dalam dua kategori, yaitu aitem favourable dan aitem unfavourable. Kriteria pemberian skor adalah sebagai berikut : untuk aitem intrinsik yang berfungsi sebagai aitem favourable, jawaban sangat setuju (SS) nilai 5, setuju (S) 4, tidak setuju (TS) 2 dan sangat tidak setuju (STS) 1. Sedangkan untuk aitem ektrinsik yang berfungsi sebagai aitem unfavourable, jawaban sangat setuju (SS) mendapat nilai 1, setuju (S) 2, tidak setuju (TS) 4 dan sangat tidak setuju (STS) 5. Jawaban netral atau tidak dapat menentukan jawaban pada aitem intrinsik maupun ektrinsik memperoleh nilai 3.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil analisis data diperoleh koefisien perbedaan sebesar 7,584 dengan P < 0,050. Hal ini menujukkan bahwa ada perbedan orientasi keagamaan yang signifikan antara siswa santri pondok pesantren , siswa madrasah aliyah negeri dan siswa pada sekolah Islam swasta. Dari skor rerata terlihat bahwa siswa santri pondok pesantren orientasi keagamaannya paling intrinsik, sedangkan siswa pada madrasah aliyah negeri orientasi keagamaannya paling ektrinsik.
Adanya perbedaan orientasi keagamaan antara ketiga institusi pendidikan tersebut menujukkan bahwa institusi pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam pembentukan orientasi keagamaan sisiwa. Dengan kata lain orientasi keagamaan siswa sedikit banyak dibentuk oleh tempat di mana siswa memperoleh pendidikan dan pengajaran formal keagamaannya. Kenyataan ini memperkuat pendapat-pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa faktor institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan corak atau turut mempengaruhi arah orientasi keagamaan siswa. Namun demikian, koefisien perbedaan yang hanya sebasar 7,584 tersebut mengindikasikan bahwa faktor institusi pendidikan agama bukan menjadi faktor tunggal atau faktor satu-satunya yang mempengaruhi orientasi keagamaan siswa. Faktor lain-lain tersebut bisa berupa pengaruh peer group, konsistensi pendidikan dan praktek keagamaan di dalam keluarga, keadaan sosial ekonomi keluarga.
Hasil penelitian ini secara lebih spesifik menunjukkan bahwa orientasi keagamaan pada siswa santri pondok pesantren paling intrinsik dibandingkan dengan dengan siswa madrasah aliyah negeri dan siswa pada sekolah Islam swasta. Keadaan ini bila dibahasakan secara verbal berarti pendidikan keagamaan yang dilaksanakan di pondok pesantren benar-benar intensif, dalam arti bukan sekedar merupakan proses pengajaran agama saja. Pendidikan keagamaan di pondok pesantren benar-benar merupakan usaha internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam diri para santrinya, sehingga terbentuk kepribadian utama, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai universalitas agama Islam. Artinya pendidikan keagamaan yang dilaksanakan di pondok pesantren tidak dibatasi oleh sekat-sekat aliran keagamaan atau sekte-sekte tertentu, misi dan visi organisasi tertentu, walaupun masing-masing pondok pesantren tersebut mempunyai nama dan konsep atau sistem pendidikan dan pengajaran yang berbeda-beda. Dengan demikian fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan dan penyiaran agama masih tetap terjaga. Konsekwensi dari keadaan ini adalah tumbuhnya kesadaran dari para santri pondok pesantren, bahwa keberadaan dirinya di pondok pesantren bukan semata untuk dirinya saja melainkan lebih untuk kepentingan agamanya. Oleh karena itu para santri tidak termotivasi untuk menjadi ‘orang besar’ dengan memanfaatkan kehidupan agamanya. Dengan kesadaran ini maka santri pondok pesantren tidak pernah terjebak untuk memanfaatkan agama demi kepentingan-kepentingannya sendiri. Dengan demikian para santri menujukkan motivasi yang besar pada pada kehidupan keagamaannya. Kebutuhan-kebutuhan lain di luar kebutuhan agama dianggap kurang berarti dan sedapat mungkin diintegrasikan dalam keselarasan dengan ajaran-ajaran agamanya.
Sementara itu pendidikan dan pengajaran keagamaan pada institusi pendidikan Islam swasta selain mengemban visi dan misi untuk mengembangkan agama Islam juga mengemban misi untuk memakmurkan organisasi keagamaan yang dibinanya. Dengan demikian pendidikan keagamaan yang diselenggarakan pada institusi sekolah Islam swasta tidak bebas nilai. Sampai taraf tertentu institusi pendidikan Islam swasta ini bisa dikatakan telah memanfaatkan agama untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya, sehingga orientasi keagaamaan yang terbentuk pada siswa siswinya tidak lagi bersifat murni, dalam arti tidak terlalu intrinsik jika dibandingkan dengan orientasi keagamaan para santri di pondok pesantren. Orientasi keagaman siswa sekolah Islam swasta bersifat lebih moderat dan lebih permisif . Hal ini lebih disebabkan karena pendidikan keagamaan yang diberikan kepada siswa siswinya sangat berbeda dengan yang diterima santri pondok pesantren. Perbedaan tersebut terutama terletak pada metode dan sistem pendidikan, kurikulum dan suasana kebathinan yang berkembang dalam institusi.
Kurikulum pendidikan keagamaan di sekolah Islam swasta lebih mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayan, di mana pelajaran agama hanya diberikan satu kali dalam satu minggu selama dua kali empat puluh lima menit. Keadaan demikian kiranya dapat dimaklumi, sebab tujuan utama pendidikan pada institusi pendidikan Islam swasta bukan untuk mencetak ahli-ahli agama Islam, tetapi berusaha untuk mengintegrasikan atau memadukan nilai-nilai pendidikan modern dengan nilai-nilai pendidikan agama. Dengan demikian institusi ini berharap out put-nya kelak dapat menjadi ‘orang besar’ yang mempunyai pengetahuan duniawiah sekaligus pengetahuan agama yang memadai, meskipun bukan ahli agama. Oleh karena itu kurikulum pendidikan di institusi ini tidak secara spesifik bertemakan hal-hal yang bersifat keagamaan, meskipun nama institusi pendidikan tersebut mencerminkan sebagai lembaga pendidikan berlatar belakang pendidikan agama Islam.
Dari penelitian ini diketahui pula bahwa pendidikan keagamaan model madrasah aliyah negeri, orientasi keagamaannya paling ektrinsik. Kenyataan ini menunjukkan bahwa keinginan institusi madrasah aliyah negeri untuk menyelenggarakan model pendidikan yang menyeimbangkan dan mengintergrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dalam kegiatan pendidikan di kalangan umat Islam kurang menunjukkan hasil yang memuaskan, meskipun tidak bisa dikatakan gagal total. Kegagalan ini mungkin sekali disebabkan oleh kurikulum pendidikan yang diterapkan, di mana pelajaran agama , menurut kurikulum tahun 1994 pelajaran agama diberikan kurang dari sepuluh persen dari total mata pelajaran yang ada. Padahal pada kurikulum 1984 pelajaran agama diberikan sebesar 30 persen. Muatan kurikulum non agama yang demikian besar ini membuat siswa madrasah aliyah negeri kurang mempunyai kesempatan untuk mendalami agamanya secara intensif sehingga kehidupan agama mereka menjadi sangat perifer atau dangkal (dalam kapasitas mereka sebagai siswa institusi pendidikan keagamaan), lebih-lebih bila institusi madrasah aliyah negeri tersebut tidak menyelenggarakan kegiatan ektra kurikuler keagamaan di luar jam-jam belajar di sekolah.
Terlepas dari masalah kurikulum dan sistem pembelajaran di madrasah aliyah negeri, rendahnya orientasi keagamaan siwa-siswi madrasah aliyah negeri dibanding dengan santri pondok pesantren dan sekolah Islam swasta ini, kemungkinan juga disebabkan oleh faktor motivasi awal yang melatarbelakangi keputusan calon siswa untuk belajar di madrasah aliyah negeri. Banyak calon siswa yang masuk madrasah aliyah negeri pengetahuan dasar keagamaannya sangat sedikit, sehingga mereka berharap setelah sekolah di madrasah aliyah negeri akan memperoleh ilmu agama dan sekaligus ilmu pengetahuan umum. Tetapi kenyataan yang diperoleh tidak seperti harapannya, mereka lebih banyak memperoleh pengetahuan umumnya dari pada ilmu-ilmu agamanya.
Madrasah aliyah negeri adalah lembaga pendidikan dengan status negeri. Artinya pengelolaan madrasah aliyah negeri berada di bawah yuridiksi kekuasaan pemerintah, yang dalam hal ini Departemen Agama RI. Dalam kultur dan persepsi orang Indonesia, status negeri adalah selalu menjadi yang nomor satu dan pilihan nomor satu pula. Sehingga sangat memungkinkan sekali para siswa memilih atau memasuki madrasah aliyah negeri karena statusnya yang negeri tersebut, bukan karena identitas keagamaannya. Jadi sangat beralasan sekali bila orientasi keagamaan siswa madrasah aliyah negeri lebih bersifat ektrinsik daripada santri pondok pesantren dan siswa sekolah Islam swasta.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ada perbedaan orientasi keagamaan antara siswa santri pondok pesantren, siswa madrasah aliyah negeri dan siswa pada sekolah Islam swasta. Siswa santri pondok pesantren orientasi keagamaanya paling intrinsik dan siswa pada madrasah aliyah negeri orientasi keagamaannya paling ektrinsik.
Saran
1. Perlu dilakukan upaya-upaya untuk mensinergiskan metode, muatan kurikulum dan sistem belajar mengajar dari ketiga institusi pendidikan tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara memadukan kelebihan-kelebihan yang ada pada masing-masing lembaga pendidikan dan menjadikannya sebagai pola dasar pembinaan bersama. Dengan cara ini diharapkan terwujut satu pola tunggal pembinaan pendidikan keagamaan Islam di bawah satu departemen teknis saja, yaitu Departemen Agama. Bukan dua atau tiga departemen seperti yang terjadi selama ini.
2. Madrasah aliyah negeri perlu meningkatkan muatan pendidikan agama minimal mendekati 50 persen. Penambahan pelajaran ini tidak harus dilakukan dengan cara merubah kurikulum atau mengurangi jam-jam pelajaran non keagamaan. Sebab penambahan tersebut dapat dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan ektra kurikuler wajib. Misalnya kegiatan mentoring, kuliah subuh, halaqah, dan penugasan mandiri.
3. Pondok pesantren sebagai bagian dari pendidikan nasional harus segera mulai membuka diri terhadap perubahan dan modernisasi. Pondok pesantren harus mulai membuka diri agar tidak terjebak pada eklusifisme, sehingga bisa lebih berperan dalam menyelenggarakan pendidikan anak bangsa dengan efisien, dan profesional. Pendekatan sistem dan manajemen pendidikan yang cenderung masih mempertahankan idiologi tradisionalis di lingkungan pondok pesantren perlu lebih disesuaikan dengan perkembangan jaman, sehingga kesan ekslusif dapat dikurangi, sehingga pondok pesantren benar-benar dapat menjadi bagian dari masyarakat bangsa Indonesia, bukan hanya menjadi milik umat Islam semata. Di samping itu dasar yuridis atau dasar hukum penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren perlu segera dipertegas, misalnya mengacu pada Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1992 serta tata peraturan perundangan lain yang berlaku di Indonesia.
4. Kepada peneliti selanjutnya , agar diteliti lebih mendalam motivasi dasar yang melatarbelakangi masuknya siswa-siswi ke salah satu lembaga pendidikan tersebut. Juga perlu dikontrol faktor demografi dan geografi dari lembaga atau institusi pendidikan yang dijadikan kancah atau lokasi penelitian. Di samping itu kepada peneliti selanjutnya, penulis juga menyarankan agar dipertegas identifikasi dari pondok pesantren, karena ada kecenderungan dari masyarakat untuk memilahkan pondok pesantren menjadi pondok pesantren modern dan pondok pesantren tradisional.

Kamis, 31 Maret 2011

PUASA SEBAGAI MADRASAH RUHANIAH

Soleh Amini Yahman. MSi. PSi
Wakila ketua Lembaga Pustaka seni dan Budaya
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta. Dosen UMS

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa, sesungguhnya Allah memerintahkan manusia agar bersekolah. Artinya puasa dijadikan sebagai media pembelajaran atau bermadrasah. Yaitu belajar menahan hawa nafsu, menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan dan mengendalikan diri dari segala keburukan. Sehingga manusia terselamatkan dari kebodohan yang paling bodoh, yaitu kekufuran dan ketidakberimanan atas keagungan, keesaaan dan kemuliaan Allah. Maka agar tidak menjadi bodoh, diperintahkanlah manusia untuk berpuasa, karena puasa itu madrasah ruhaniyah.
Tujuan utama berpuasa yang sebenarnya adalah memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaharui diri dan sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih baik, sehingga mewujut kualitas taqwa dalam kehidupannya. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan menyekolahkan jiwa/ ruhaniyah , sehingga terwujut intelektualitas kejiwaan. Dengan intelektualitas ini manusia dapat dan sanggup menerima kebenaran dan membenarkan ajaran-ajaran Allah, sehingga tergolong sebagai orang yang ulil albab. Orang-orang ulil albab inilah yang dimaksud sebagai orang yang tataqun sebagaimana disebut dalam akhir surah Al Baqarah ayat 183.

Dalam proses pembelajaran tersebut, puasa mempunyai dimensi sosial dan dimensi ketuhanan. Artinya puasa tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah dan berbakti kepada Allah saja. Puasa juga membawa ajaran untuk mengembangkan perilaku-perilaku humanis yang bersifat horizontal. Puasa membawa juga ajaran untuk mengembangkan nilai keseimbangan ruhaniah dan jasadiyah. Dengan kata lain puasa tidak hanya berdimensi ibadah vertikal (menyembah Allah) tapi juga mengajarkan bagaimana bersikap empatik terhadap derita orang miskin yang sering merasakan lapar karena kemiskinannya. Secara jasadiah puasa ‘hayalah' amalan berupa menahan rasa lapar dan minum serta mengendalikan diri dari perilaku seksual dari sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.
Pelajaran atau ibrah yang muncul dari “puasa” jasadiah ini adalah bagaimana rasanya lapar dan dahaga mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku seseorang, sehingga ada experience secara langsung yang dirasakan. Orang yang mau berfikir akan menjadikan experience ini sebagai landasan untuk mengembangkan perilaku empatik terhadap orang-orang miskin yang sering merasa lapar dan dahaga karena kemelaratannya. Secara psikologis perilaku empatik yang muncul karena pengalaman langsung ini akan menghindarkan seseorang dari perilaku congkak, sombong atau takabur. Sebaliknya justru akan membawa seseorang pada perilaku syukur, kona’ah dan tawadu’, suka bersedekah, menjadi penyayang dan tahu diri.
Indikator keberhasilan puasa sebagai media pembelajaran baru dapat dideteksi dari sisi horizontal atau lahiriahnya saja. Hal itu tercermin melalui keluhuran budi pekerti yang ditunjukkan dengan sikap empatik, simpatik, jujur, adil, tenggang rasa, ramah, belas kasih, menghargai orang lain, suka bersedekah, lebih giat beribadah dan lain-lain. Sedangkan aspek ruhhiyahnya hanya allah yang berhak menilai. Dengan demikian di antara hikmah penting dari ibadah puasa ramadhan adalah mendidik umat untuk mempunyai irama kehidupan bersama yang damai, cerdas secara sosial, berkeseimbangan antara perilaku duniawiah dan ukhrowiyahnya sehingga idialitas masyarakat yang baldatun toyyibatun warobbul ghofur dapat terwujut dalam kehidupan umat.
Kekeringan Ruhaniah
Menempatkan puasa sebagai sekolah jiwa atau madrasah ruhaniyah, sangat tepat bila dikaitkan dengan kondisi kekinian umat yang semakin hari semakin kering dari rasa damai, tentram dan kisruh. Umat tengah menghadapi kemarau ruhaniah yang panjang. Belakangan ini kekerasan seakan telah menjadi bagian terbesar dari kehidupan umat. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kantor dan di manapun umat berada maka kekerasan (agresifitas dan violence) seakan menjadi warna yang dominant.. Hal itu tidak hanya dilakukan orang dewasa, anak-anakpun melakukannya. Dengan kata lain kekerasan, kejahatan, kedzoliman tidak lagi hanya dilakukan oleh para penjahat tetapi juga dikerjakan oleh orang-orang terpelajar dan orang-orang alim yang berpendidikan tinggi serta paham ilmu-ilmu agama.
Di sinilah urgensi terpenting menempatkan puasa sebagai media pembelajaran, sehingga umat benar-benar terselamatkan dari kebodohan yang fasik dan kemuliaan yang semu dan serta mampu bertahan dalam menghadapi penderitaan. Tidak mudah putus asa ketika derita dan ujian menghadangnya. Hal inilah yang seharusnya menjadi indek prestasi kumulatif bagi alumni madrasah ruhaniah yang bernama ‘puasa’.
Konsumerime dalam Puasa
Hal lain yang diajarkan dalam madrasah ruhaniah mengenai ibadah puasa ini adalah mengenai pengekangan perilaku konsumtif. Sudah menjadi rutinitas masyarakat Indonesia, setiap kali datang bulan ramdhaan maka tingkat konsumsi pun meningkat. Hal itu diikuti oleh tingginya harga-harga kebutuhan dasar maupun kebutuhan-kebutuhan sekunder, dan ujung-ujungnya bulan puasa dituduh sebagai biang keladi terjadi inflasi karena tingginya tingkat konsumsi masyarakat.
Dalam kaitan inilah sprit ramadhan, spirit puasa ramadhan menjadi hal yang sangat penting dan relevan untuk kembali dipelajari dalam madrasah ruhaniyah guna menangkal dan bahkan untuk menggugat keberadaan pasar yang cenderung dzolim terhadap nilai-nilai kehidupan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu bila yang tampak sekarang ini ramadhan identik dengan ramainya pasar dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat, maka sesungguhnya hal itu tidak lepas dari spirit ramadhan yang didistorsikan oleh kekuatan pasar. Maka tidaklah mengherankan jika bulan puasa baru saja dimulai, maka yang dikampanyekan oleh pasar adalah sirup yang lezat, busana yang indah, kendaraan mudik yang nyaman, liburan lebaran yang aduhai, kue-kue lebaran dan lain-lain. Sehingga ketika umat baru saja memasuki hari kesatu atau kedua bulan ramadhan, yang terpikir dibenaknya adalah menikmati kemewahan dan suasana lebaran. Semua bermunculan secara simultan di ruang maya maupun ruang nyata. Oleh karena itu menjadi hal yang jamak untuk dipahami jika pada minggu pertama bulan puasa, hypermarket, supermarket, mall dan toko-toko dan pasar menjadi lebih ramai dibanding tempat ibadah tarwih dan tempat tadarus Al-Qur’an. Hal inilah yang menjadikan nilai keberagamaan dan nilai ramadhan menjadi terasa kering. Ibadah puasa ramadhan lebih cenderung bersifat rutinitas belaka, sehingga tidak menyentuh kehidupan umat yang sebenar-benarnya. Melihat persoalan yang demikian ini, maka sudah tiba waktunya untuk melakukan pembenahan kembali terhadap pemahaman tentang esensi dan substansi puasa ramadhan.
Di tengah kepungan dan intervensi pasar yang sedemikian hebat ini, bagaimana umat Islam dapat menemukan dan membangun kembali spirit ramadhan yang telah luntur ini ? Kata kunci atas jawaban dari pertanyaan ini adalah menjadikan puasa sebagai madrasah ruhaniyah yang bertujuan untuk memajukan ruhaniah manusia yang dengan mudah melakukan dosa , menjadi ruhani yang resisten terhadap godaan-godaan duniawi. Hanya ruhani-ruhani yang cerdas saja yang akan mampu menjadikan puasa sebagai pendidikan ruhaniahnya.
Mari kita Jadikan puasa ramadhan 1428 sebagai media pembelajaran jiwa secara iklas dan sungguh-sungguh, sehingga kehidupan bangsa ini dapat kembali tercerahkan dan menemukan jati diri sebagai bangsa yang cerdas secara kejiwaan dan sekaligus cerdas secara keilmuan. Dengan segala kecerdasan tersebut terwujutlah tujuan akhir puasa yanitu menjadi manusia yang bertaqwa. Identitas taqwa yang disandang manusia adalah menjadi tanda kesempurnaan dari penciptaan manusia. Berpuasalah kamu maka kamu akan sehat ! sehat jasmani, rohani, social dan religiusitasnya. Amin…amin.
Ahlanwasahlan ya Ramadhan barokallah. Taqoballaulahumina waminkum taqobaullahi ya kharim.

SHALAT ANTARA HIKMAH DAN MANFAAT

Shalat dalam al-Qur'an
H. Al FurQon Hasbi Lc, M.Ag

Di dalam agama Islam Shalat mempunyai kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadah-ibadah yang lainnya. Kata shalat disebut dalam al qur'an sebanyak 59 kali. Di antaranya:
Artinya :"Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu" (Thaha : 14)

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ( طه : 132)

Artinya :"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya" (Thaha : 132)

Artinya : "Dan dirikanlah olehmu shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar" (Al Ankabut : 45)

Artinya : "Dan dirikanlah olehmu akan shalat dan berikanlah olehmu zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' "(Al-Baqarah : 43)




• Shalat adalah tiang agama. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda:
جاء رجل ، فقال : يا رسول الله أي شيء أحب عند الله في الإسلام ؟ قال : « الصلاة لوقتها ، ومن ترك الصلاة فلا دين له ، والصلاة عماد الدين » (رواه البيهقي في شعب الإيمان:6/334)

"Datang seorang pria berkata: Wahai Rasulullah, amalan apa yang paling disukai Allah dalam Islam? Beliau menjawab: Shalat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya. Shalat adalah tiang agama" (HR. Baehaqi dalam kitab Syuabul Iman: 6/334)

• Shalat adalah salah satu rukun Islam yang lima. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda:

إِنَّ الإسلامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ (رواه مسلم: 22)
"Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima (pondasi), yaitu persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan haji ke Baetullah" (HR. Muslim, no:22)

• Shalat merupakan ibadah yang paling tinggi nilainya, karena merupakan ibadah yang paling sempurna yaitu meliputi ibadah jasmani dan rohani. Ibadah yang berbentuk gerakan dan ucapan, di antara bentuk ucapan yaitu tasbih, tahmid, tahlil dan doa. Doa adalah intisari ibadah sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda:
االدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ (رواه الترمذي : 3293)

"Doa adalah otak (intisari) ibadah" (HR. Tirmidzi, no:3293)
Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda:

• Shalat merupakan amalan yang pertama dihisab di akhirat. Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلاتُهُ (رواه النسائي :462)

Meneladani Shalat Nabi Shallahu 'alai wa sallam

Mengerjakan shalat harus meneladani Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam, sebagaimana sabdanya:
َصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أ ُصَلِّي (رواه البخاري :595)

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR. Bukhari, no: 595)


Hikmah di balik shalat

Saat terindah bagi seorang pecinta adalah ketika ia bertemu, bercengkrama, dan berdialog dengan orang yang dicintainya. Ketika itu, segala beban hidup dan kenestapaan akan hilang seketika. Bagi para shalihin, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi'raj menuju Allah. Walau demikian, ia akan kembali lagi ke alam realitas untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat dari shalatnya. Inilah makna sesungguhnya dari khusyuk.

Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Mukminun: 1-3,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)

"Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna".

Di lain pihak Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam bersabda: Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani ) Dua keterangan di atas setidaknya mengadung pesan bahwa shalat seharusnya mampu membawa perbaikan kualitas hidup kita. Dengan kata lain, bila kita ingin sukses dan ingin berhasil dalam hidup ini, maka kuncinya adalah punya iman dan mampu khusyuk dalam shalat. Siapa pun di antara kita yang tidak pernah meneliti kualitas shalatnya, besar kemungkinan ia tidak akan sukses dalam hidup.

Dalam surat yang lain, Allah berfirman;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
"Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya" (QS. Al Ma'un: 4-5).
Redaksi ayat tersebut bukan fi ( في) tapi an ( عن ), yang menggambarkan bahayanya lalai sesudah shalat. Khusyuk ketika shalat hanya memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan sehari 24 jam.

Karenanya, tidak mungkin shalat itu hanya efektif untuk yang satu jam. Yakinlah bahwa shalat yang satu jam harus bagus dan sisanya yang 23 jam harus lebih bagus lagi. Maka orang yang shalatnya khusyuk adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan baik ketika shalat, dan sesudah shalat ia betul-betul produktif berbuat kebaikan terhadap umat.

Suatu ketika Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.

Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!"

Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu.

Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat."

Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.

Namun seperti "biasanya", Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!"

"Sahabatku," kata Rasulullah Shallahu 'alai wa sallam dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Al-Qur'an yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
Kisah dari Mahmud bin Rabi' Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar "benar" gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.

Lalu, apa hikmah shalat yang bisa kita dapatkan?
Pelajaran Pertama, Allah mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia.

Pelajaran kedua dari shalat adalah kebersihan. Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams: 9-10 Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya". Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih.

Mulai dari dhahir, rumah harus bersih. Bersih dari sampah, dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih. Mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Bersihnya hati akan memunculkan kepekaan terhadap setiap titik dosa, dan inilah awal dari kesuksesan.

Pelajaran Ketiga, sebelum memulai shalat kita harus memasang niat. Niat sangat penting dalam ibadah. Diterima tidaknya sebuh ibadah akan sangat dipengaruhi oleh niat. Seorang yang shalatnya khusyu akan selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Ia yakin bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas. Apa ciri orang ikhlas? Ia jarang kecewa dalam hidupnya. Dipuji dicaci, kaya miskin, dilihat tidak dilihat, tidak akan berpengaruh pada dirinya, karena semua yang dilakukannya mutlak untuk Allah.

Setelah niat, shalat memiliki rukun yang tertib dan urutannya. Jadi, Pelajaran keempat dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan procedural dalam hidupnya.

Pelajaran Kelima, hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma'ninah. Tuma'ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaiknya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk proporsional dalam beragama, karena itu salah satu tanda kefakihan seseorang. Bila ini bisa kita lakukan dengan baik insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna., yaitu sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat.

Pelajaran Keenam, shalat memiliki gerakan yang dinamis. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaanm tapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya.

Bahkan setiap orang sama derajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu. Ketawadhuan adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya. Apa cirinya? Ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada


kemuliaan,. dirinya.

Hikmah terakhir dari shalat yang khusyuk adalah salam. Shalat selalu diakhiri dengan salam, yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagimu. Ucapan salam ketika shalat merupakan garansi bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat zalim pada orang lain. Ini adalah kunci sukses, karena setiap kali kita berbuat zalim, maka kezaliman itu akan kembali pada diri kita.

Inilah tujuh hikmah yang bisa kita ambil dari manajemen shalat khusyuk. Bila kita mampu mengaplikasikannya, insya Allah kesuksesan dunia dan akhirat ada dalam genggaman kita. Wallahu a'lam bish-shawab



Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tapi juga gerakan-gerakan shalat adalah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis penyakit.

Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaannya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri.
Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat, merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram:
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah."


Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk.

Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.

berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.
Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku’: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.
Manfaat, Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.
I’tidal: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.
Manfaat: i’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi
lebih lancar.
Sujud: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.
Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus
bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
Manfaatnya: saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam: Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaatnya untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud dalam sholat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya.
Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.
Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Bahwa darah tidak akan memasuki urat syaraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang bersembahyang yakni ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti kadar salat waktu yang diwajibkan oleh Islam.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan sholat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam sholat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan sholat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar. Yang menarik, menurut penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajjud terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Siko Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahannkanya beberapa waktu lalu.
Salat tahajud ternyata bukan hanya sekadar salat tambahan (sunnah muakkad) tapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis sholat ini menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonolagi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfositnya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulanggi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kotrisol pada pagi hari normalnya anatra 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kotrisolnya normal, bisa didindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Bergitu sebaliknya, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Menurut DR. Sholeh. Orang stes itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infkesi. Dengan tahajjud yang dialakukan secara rutin dan disertai perasaan ihklas serata tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan teknik medis menunjukkan, salat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahan tubuh yang baik.
Wallahu A’lam Bishshowab.
.dari berbagai sumber


PUASA : PENGENDALIAN DIRI UNTUK KESEHATAN JIWA



Drs. Soleh Amini Yahman. MSi

Ritual puasa bagi umat Islam adalah merupakan kredo peribadatan yang sifatnya rutin, terjadi terus menerus setiap setahun sekali, dimana umat islam wajib untuk melaksanakan karena puasa ini merupakan perintah Agama. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.”(QS. Al Baqarah 183).
Inti perintah untuk menjalankan ibadah bagi umat islam adalah pengendalian diri atau self control. Mengapa aspek pengendalian ini penting ? Karena pengendalian diri merupakan salah satu komponen utama bagi upaya perwujutan kehidupan jiwa yang sehat. Dalam perspektif ilmu psikologi dan kesehatan mental, kemampuan mengendalikan diri adalah merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah seseorang.. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan apalagi yang berat. Manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai-reaksi-reaksi pathologis dalam kehidupan alam pikir (cognition), alam perasaan (affection) dan perilaku (psikomotorik). Bila hal ini terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak harmonis antara diri individu dengan dirinya sendiri (conflik internal) dan juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Dengan demikian maka orang yang jiwanya tidak sehat keberadaannya akan sangat mengganggu dirinya sendiri, juga menggangu lingkungan sekitarnya.

Puasa dan Pengendalian Diri
“Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (Hadist Riwayat Buhari).
Ketidakmapuan mengendalikan diri adalah merupakan malapetaka individual sekaligus petaka sosial. Ketidakmampuan mengendalikan diri akan sangat buruk efeknya bagi diri sendiri maupun bagi kehidupan sosial di sekitarnya. Orang yang tidak mampu mengendalikan diri untuk makan dan minum akan mengalami kegemukan (obesitas) juga akan mengalami berbagai komplikasi penyakit yang ditimbulkan oleh akibat kegemukan itu. Banyak penyakit-penyakit yang diakibatkan bukan karena kekurangan makan, melainkan karena penyakit metobolisme sebagai akibat kelebihan makan, apalagi kalau makanan itu tidak baik dan tidak halal. Demikan pula dalam perilaku seksual, banyak berbagai perilaku seksual menyimpang yang disebabkan karena ketidakmampuan orang untuk mengendalikan hasrat seksualnya. Kasus perselingkuhan, promiskuitas, pelacuran, perkosaan, pencabulan dan berbagai akibat yang ditimbulkannya, seperti krisis rumah tangga,penyebaran penyakit kelamin sampai kepada tindak pidana adalah bukti dan contoh konkritnya.
Pada tataran sosial yang lain, kita sering menyaksikan orang melakukan tindakan korupsi, suap karena ketidakbisaan seseorang untuk mengendalikan diri guna mencapai kedudukan ataupun jabatan tertentu. Orang melakukan korupsi , suap dan sebagainya tadi dilakukan karena dorongan ambisi pribadi atau keluarga dengan mengabikan aspek-aspek kepatutan umum, norma, hukum dan nilai-nilai sosial . Maka perintah menjalankan ibadah puasa tiada lain merupakan latihan pengendalian diri agar manusia memiliki jiwa yang sehat serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT agar terhindar dari perbuatan yang sia-sia, melanggar etika moral, hukum maupun norma-norma kehidupan sosial yang baik.

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Jiwa
Berbagai penelitian bidang kedokteran tentang hubungan puasa dan kesehatan badan sudah banyak dilakukan dan hasilnya menujukkan adanya hubungan yang positif dan significant antara puasa dan kesehatan badan. Tetapi bagaimana halnya hubungan puasa dengan kesehatan jiwa ?
Doktor Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow mencoba menyembuhkan gangguan jiwa dengan berpuasa. Dalam usahanya itu ia melakukan terapi terhadap pasiennya dengan menggunakan 30 hari puasa (persis puasanya orang islam). Nicolayef mengadakan penelitian ekperiment dengan membagi subyek menjadi dua kelompok yang sama besar, baik usia maupun berat ringannya gangguan. Kelompok pertama diberi terapi atau pengobatan dengan menggunakan obat-obatan medis. Sementara kelompok ke II diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dua kelompok tadi diikuti perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologi. Dari ekperimen ini diperoleh hasil yang sangat baik, yaitu banyak pasien-pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik ternyata bisa sembuh dengan berpuasa. Sementara itu Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar psikitari UI Jakarta dalam penelitiannya juga menemukan bahwa gangguan-gangguan jiwa non psikosis (seperti fobia, obsesif kompulasi, panic disorder) dapat disembuhkan dengan terapi puasa, baik puasa ramadhan maupun puasa sunat. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang hubungan puasa dan kepekaan sosial, menemukan temuan bahwa puasa secara significan berhubungan positip dengan sensitifitas sosial. Artinya perilaku puasa dapat meningkatkan kepekaan sosial sehingga dengan kepekaan itu individu manjadi mudah memberi pertolongan (helping behavior) dan suka mengembangkan perilaku-perilaku yang bersifat pro sosial.
Bagaimana Puasa Menyembuhkan Gangguan Jiwa ?
Puasa adalah merupakan olah raga bathin, dimana manusia yang berpuasa dilatih untuk bersikap jujur (tidak membohongi diri sendiri dan orang lain), disiplin (makan di atur waktunya secara ketat) sabar menghadapi berbagai godaan dan lebih menggiatkan amalan-amalan salih. Prinsip dalam ajaran puasa tersebut persis sama dengan prinsip penyembuhan pasien gangguan jiwa. Dalam terapi gangguan jiwa pasien dididik dan dilatih untuk jujur, disiplin dan sabar serta banyak melakukan aktivitas-aktivitas fisik maupun sosial, sehingga pasien akan menemukan pencerahan jiwa atau insight.
Kesehatan Jiwa dan Agama
Qul huwa lil ladziina aamanuu hudaw wa syifaa : Katakanlah Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang beriman. (QS. 41 : 44).
Pengertian kesehatan jiwa menurut ilmu kedokteran jiwa (psikitari dan psikologi) adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, Intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam penghidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia yang lain. Word Healt Organisation ( WHO) memberikan batasan dan kriteria kesehatan jiwa sebagai berikut : (1) Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya. (2) Dapat merasakan kepuasan dari hasil jerih payah usahanya (3) Merasa lebih suka memberi daripada menerima (4). Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas (5) Dalam berhubungan dengan orang lain suka mengembangkan sikap dan perilaku positif dan saling memuaskan (6) Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pelajaran di kemudian hari (7). Mengarahkan rasa permusuhannya kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif (8) Mempunyai kasih sayang yang besar terhadap sesama. Pada tahun 1984 WHO telah menyempurnakan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen spirutual, sehingga sekarang ini yang dimaksud dengan sehat adalah tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologis dan sosial saja tetapi juga sehat dalam arti spiritual keagamaan.
Puasa dan Kecerdasan Emosional
Sebagaimana telah dikutip di muka, puasa adalah bagian dari perintah agama, sebuah perintah keagamaan yang harus ditaati oleh umat. Dengan mentaati perintah tersebut manusia menjadi tunduk dan mampu “menahan diri” sehingga berimplikasi postif bagi perkembangan kecerdasan emosi (emosional intelegence). Apa saja kandungan puasa yang berefek positip bagi perkembangan kecerdasan emosional manusia. (1) Mengontrol diri. Tak ada kamus bagi manusia untuk menahan haus dan lapar. Secara instingtif manusia akan melakukan tindakan makan atau minum begitu merasa lapar atau dahaga. Namun dengan berpuasa manusia dilatih dan menjadi terlatih untuk mengontrol/menahan diri untuk tidak makan atau minum sehebat apapun rasa haus dan lapar tersebut, karena ia sadar bahwa dirinya sedang berpuasa (2) Menahan emosi.Tempramen manusia kadang sulit dikendalikan. Lewat puasa manusia dilatih dan terlatih untuk menahan emsosi, sebab ada nilai dalam puasa yang mengajarkan “kalau sedang puasa tidak boleh marah-marah” atau “ tidak boleh bertengkar, nanti puasanya batal lho” dan sebagainya. (3) Mengajarkan arti berbagi, bulan puasa adalah bulan untuk banyak berbagi (beramal). Orang tua bisa memberi contoh dan menjelaskan realitas kepada anak-anaknya (murid-muridnya) bahwa di luar lingkungan keluarganya (diluaran sana) ada orang yang kekurangan, harus dibantu harus ditolong dan sebagainya, saat berbagai dengan orang lain (misalnya sedekah, zakat) libatkanlah anak, minta anak memberikan sumbangan atau bantuan. Cara ini akan melatih emosi anak untuk lebih peduli (empati) pada orang lain. Selain itu akan mengurangi ego anak, dan mengajarkan anak untuk mau dan senang berbagai dengan orang lain.
Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa semoga puasa membawa kita menjadi manusia santun, sabar dan mampu menahan diri. Amin.

Rabu, 12 Mei 2010

Kekuatan Doa


Soleh Amini Yahman

Dan Tuhanmu Berfirman "bedoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu (QS Al-Mu'min [40] : 60

Sesungguhnya doa adalah inti ibadah. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berdoa dan Allah berjanji akan mengabulkan doa tersebut, serta mengancam orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau berdoa bahwa mereka akan dimasukkan kedalam neraka jahanam,
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari meyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al Mu'min [40] : 60

Pangkal doa utama adalah keikhlasan " Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya (QS. Al-Mu'min [40]: 14

Tingkat kedekatan dan terkabulnya doa seseorang hamba adalah sebanding dengan tingkat kedekatan hamba itu kepada Tuhannya. Oleh karena itu, syarat utama untuk memperoleh pengabulan doa adalah dengan keikhlasan dan kehadiran hatinya dihadapan tuhannya.