Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Kamis, 31 Maret 2011

PUASA : PENGENDALIAN DIRI UNTUK KESEHATAN JIWA



Drs. Soleh Amini Yahman. MSi

Ritual puasa bagi umat Islam adalah merupakan kredo peribadatan yang sifatnya rutin, terjadi terus menerus setiap setahun sekali, dimana umat islam wajib untuk melaksanakan karena puasa ini merupakan perintah Agama. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.”(QS. Al Baqarah 183).
Inti perintah untuk menjalankan ibadah bagi umat islam adalah pengendalian diri atau self control. Mengapa aspek pengendalian ini penting ? Karena pengendalian diri merupakan salah satu komponen utama bagi upaya perwujutan kehidupan jiwa yang sehat. Dalam perspektif ilmu psikologi dan kesehatan mental, kemampuan mengendalikan diri adalah merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah seseorang.. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan apalagi yang berat. Manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai-reaksi-reaksi pathologis dalam kehidupan alam pikir (cognition), alam perasaan (affection) dan perilaku (psikomotorik). Bila hal ini terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak harmonis antara diri individu dengan dirinya sendiri (conflik internal) dan juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Dengan demikian maka orang yang jiwanya tidak sehat keberadaannya akan sangat mengganggu dirinya sendiri, juga menggangu lingkungan sekitarnya.

Puasa dan Pengendalian Diri
“Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (Hadist Riwayat Buhari).
Ketidakmapuan mengendalikan diri adalah merupakan malapetaka individual sekaligus petaka sosial. Ketidakmampuan mengendalikan diri akan sangat buruk efeknya bagi diri sendiri maupun bagi kehidupan sosial di sekitarnya. Orang yang tidak mampu mengendalikan diri untuk makan dan minum akan mengalami kegemukan (obesitas) juga akan mengalami berbagai komplikasi penyakit yang ditimbulkan oleh akibat kegemukan itu. Banyak penyakit-penyakit yang diakibatkan bukan karena kekurangan makan, melainkan karena penyakit metobolisme sebagai akibat kelebihan makan, apalagi kalau makanan itu tidak baik dan tidak halal. Demikan pula dalam perilaku seksual, banyak berbagai perilaku seksual menyimpang yang disebabkan karena ketidakmampuan orang untuk mengendalikan hasrat seksualnya. Kasus perselingkuhan, promiskuitas, pelacuran, perkosaan, pencabulan dan berbagai akibat yang ditimbulkannya, seperti krisis rumah tangga,penyebaran penyakit kelamin sampai kepada tindak pidana adalah bukti dan contoh konkritnya.
Pada tataran sosial yang lain, kita sering menyaksikan orang melakukan tindakan korupsi, suap karena ketidakbisaan seseorang untuk mengendalikan diri guna mencapai kedudukan ataupun jabatan tertentu. Orang melakukan korupsi , suap dan sebagainya tadi dilakukan karena dorongan ambisi pribadi atau keluarga dengan mengabikan aspek-aspek kepatutan umum, norma, hukum dan nilai-nilai sosial . Maka perintah menjalankan ibadah puasa tiada lain merupakan latihan pengendalian diri agar manusia memiliki jiwa yang sehat serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT agar terhindar dari perbuatan yang sia-sia, melanggar etika moral, hukum maupun norma-norma kehidupan sosial yang baik.

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Jiwa
Berbagai penelitian bidang kedokteran tentang hubungan puasa dan kesehatan badan sudah banyak dilakukan dan hasilnya menujukkan adanya hubungan yang positif dan significant antara puasa dan kesehatan badan. Tetapi bagaimana halnya hubungan puasa dengan kesehatan jiwa ?
Doktor Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow mencoba menyembuhkan gangguan jiwa dengan berpuasa. Dalam usahanya itu ia melakukan terapi terhadap pasiennya dengan menggunakan 30 hari puasa (persis puasanya orang islam). Nicolayef mengadakan penelitian ekperiment dengan membagi subyek menjadi dua kelompok yang sama besar, baik usia maupun berat ringannya gangguan. Kelompok pertama diberi terapi atau pengobatan dengan menggunakan obat-obatan medis. Sementara kelompok ke II diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dua kelompok tadi diikuti perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologi. Dari ekperimen ini diperoleh hasil yang sangat baik, yaitu banyak pasien-pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik ternyata bisa sembuh dengan berpuasa. Sementara itu Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar psikitari UI Jakarta dalam penelitiannya juga menemukan bahwa gangguan-gangguan jiwa non psikosis (seperti fobia, obsesif kompulasi, panic disorder) dapat disembuhkan dengan terapi puasa, baik puasa ramadhan maupun puasa sunat. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang hubungan puasa dan kepekaan sosial, menemukan temuan bahwa puasa secara significan berhubungan positip dengan sensitifitas sosial. Artinya perilaku puasa dapat meningkatkan kepekaan sosial sehingga dengan kepekaan itu individu manjadi mudah memberi pertolongan (helping behavior) dan suka mengembangkan perilaku-perilaku yang bersifat pro sosial.
Bagaimana Puasa Menyembuhkan Gangguan Jiwa ?
Puasa adalah merupakan olah raga bathin, dimana manusia yang berpuasa dilatih untuk bersikap jujur (tidak membohongi diri sendiri dan orang lain), disiplin (makan di atur waktunya secara ketat) sabar menghadapi berbagai godaan dan lebih menggiatkan amalan-amalan salih. Prinsip dalam ajaran puasa tersebut persis sama dengan prinsip penyembuhan pasien gangguan jiwa. Dalam terapi gangguan jiwa pasien dididik dan dilatih untuk jujur, disiplin dan sabar serta banyak melakukan aktivitas-aktivitas fisik maupun sosial, sehingga pasien akan menemukan pencerahan jiwa atau insight.
Kesehatan Jiwa dan Agama
Qul huwa lil ladziina aamanuu hudaw wa syifaa : Katakanlah Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang beriman. (QS. 41 : 44).
Pengertian kesehatan jiwa menurut ilmu kedokteran jiwa (psikitari dan psikologi) adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, Intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam penghidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia yang lain. Word Healt Organisation ( WHO) memberikan batasan dan kriteria kesehatan jiwa sebagai berikut : (1) Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya. (2) Dapat merasakan kepuasan dari hasil jerih payah usahanya (3) Merasa lebih suka memberi daripada menerima (4). Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas (5) Dalam berhubungan dengan orang lain suka mengembangkan sikap dan perilaku positif dan saling memuaskan (6) Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pelajaran di kemudian hari (7). Mengarahkan rasa permusuhannya kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif (8) Mempunyai kasih sayang yang besar terhadap sesama. Pada tahun 1984 WHO telah menyempurnakan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen spirutual, sehingga sekarang ini yang dimaksud dengan sehat adalah tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologis dan sosial saja tetapi juga sehat dalam arti spiritual keagamaan.
Puasa dan Kecerdasan Emosional
Sebagaimana telah dikutip di muka, puasa adalah bagian dari perintah agama, sebuah perintah keagamaan yang harus ditaati oleh umat. Dengan mentaati perintah tersebut manusia menjadi tunduk dan mampu “menahan diri” sehingga berimplikasi postif bagi perkembangan kecerdasan emosi (emosional intelegence). Apa saja kandungan puasa yang berefek positip bagi perkembangan kecerdasan emosional manusia. (1) Mengontrol diri. Tak ada kamus bagi manusia untuk menahan haus dan lapar. Secara instingtif manusia akan melakukan tindakan makan atau minum begitu merasa lapar atau dahaga. Namun dengan berpuasa manusia dilatih dan menjadi terlatih untuk mengontrol/menahan diri untuk tidak makan atau minum sehebat apapun rasa haus dan lapar tersebut, karena ia sadar bahwa dirinya sedang berpuasa (2) Menahan emosi.Tempramen manusia kadang sulit dikendalikan. Lewat puasa manusia dilatih dan terlatih untuk menahan emsosi, sebab ada nilai dalam puasa yang mengajarkan “kalau sedang puasa tidak boleh marah-marah” atau “ tidak boleh bertengkar, nanti puasanya batal lho” dan sebagainya. (3) Mengajarkan arti berbagi, bulan puasa adalah bulan untuk banyak berbagi (beramal). Orang tua bisa memberi contoh dan menjelaskan realitas kepada anak-anaknya (murid-muridnya) bahwa di luar lingkungan keluarganya (diluaran sana) ada orang yang kekurangan, harus dibantu harus ditolong dan sebagainya, saat berbagai dengan orang lain (misalnya sedekah, zakat) libatkanlah anak, minta anak memberikan sumbangan atau bantuan. Cara ini akan melatih emosi anak untuk lebih peduli (empati) pada orang lain. Selain itu akan mengurangi ego anak, dan mengajarkan anak untuk mau dan senang berbagai dengan orang lain.
Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa semoga puasa membawa kita menjadi manusia santun, sabar dan mampu menahan diri. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar