Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Senin, 15 Oktober 2012

Pengantar PSikologi Umum 1


Pengantar Psikologi Umum 1
By. Soleh Amini Yahman.

Pendahuluan
          Term atau istilah psikologi merupakan istilah yang sangat populer dalam perbendaharaan kata sehari hari. Dalam setiap perbincangan kita sering menggunakan istilah psikologi untuk menggambarkan atau menjelaskan kondisi kehidupan internal seseorang yang terkait dengan perilaku-perilaku kejiwaan seseorang. Hampir semua aspek dan gejala perilaku manusia dapat dikaji dari persepektif psikologi. 

 
Fleksibilas dan luasnya pembahasan psikologi menyebabkan psikologi mempunyai banyak bidang atau bidang kajian. Misalnya psikologi sosial, psikologi klinis, psikologi pendidikan, psikologi industri dan organisasi, psikologi kesehatan dan lain-lain. Luasnya cakupan bidang psikologi inilah yang mendorong lahirnya kajian-kajian baru yang bersifat kontemporer. Karena obyek kajian psikologi adalah perilaku manusia maka pembelajaran terhadap psikologi tidak bisa dilakukan secara mandiri. Artinya untuk mempelajari ilmu psikologi secara holistik dan komprehensif maka peran-peran ilmu lain yang pararel dan se-tema dengan ilmu psikologi harus pula dilibatkan. Misalnya sosiologi, antrpologi dan komunikasi.  Dengan kata lain pembelajaran terhadap psikologi harus dilakukan dengan model pendekatan interdisipliner. Pendekatan interdispliner ini akan memberikan pengkayaan terhadap model dan pendekatan psikologi dalam memahami gejala-gejala perilaku manusia. Dalam skema sistematika ilmu pengetahuan, ilmu psikologi digolongkan dalam rumpun ilmu humanistik behavioral, bukan ilmu sosial. Penggolongan ini menempatkan ilmu psikologi sebagai ilmu yang mempunyai spesifikasi khusus sebagai ilmu yang mempelajari tentang kehidupan humanistik behavioralistik secara komprehensif dan holistik. Sebagai konsekwensi atas penempatan yang demikian ini maka ilmu psikologi harus selalu membuka diri untuk menerima intervensi oleh ilmu-ilmu lain guna pengembangan dan pengkayaan ilmu psikologi itu sendiri. Demikian pula halnya ilmuwan atau praktisi psikologi juga harus membuka cakrawala intelektualitasnya untuk menerima pengkayaan ilmu yang bersumber di luar ilmu psikologi. Dengan kata lain egosime sektoral dan disipliner harus mulai ditinggalkan, digantikan dengan semangat kolaboratif menuju model pembelajaran bersama dan kerja sama.



BAB II
Manusia Dalam Perspektif Psikologi
Memahami eksistensi manusia
Menurut hakekatnya, manusia adalah merupakan makluk yang bersifat unitas multilplex. Artinya manusia adalah makluk yang berpedikat ganda, yaitu sebagai makluk individual dan makhluk sosial sekaligus makhluk yang berketuhanan. Eksistensi hidup manusia terdiri atas dua entitas tunggal, yaitu jiwa dan raga.  Oleh karena itu dalam perspektif filsafat psikologi, manusia ditempatkan sebagai makhluk somatopsychologis yang bersifat loro-lorone atunggal,  antara jiwa dan raga tidak bisa dipisahkan, yang satu dengan yang lan saling mempengaruhi. Konsep inilah yang pada akhirnya membawa praktisi psikologi ke dalam pendekatan holistic care dalam memberikan pelayanan dan perawatan psikologis pada kliennya. Konsep ini jugalah yang membawa para psikolog, konselor dan terapis tidak bekerja secara manunggal tetapi bermitra dengan profesi-profesi lain yang pararel dalam arti mengembangkan kerjasama profesional dengan profesi lain seperti dokter, sosiolog, agamawan dan lain sebagainya.
Pengertian Jiwa : ?
Jiwa sebagai obyek kajian psikologi adalah merupakan substansi yang tidak dapat dilihat secara kasat mata kita, sekalipun menggunakan alat-alat pembesar yang super modern. Oleh karena itu dalam mempelajari eksistensi jiwa sebagai komponen kehidupan manusia, kita hanya dapat mempelajarinya sebatas gejala-gejala kejiwaannya saja, yaitu berupa perilaku atau tingkah laku.
Menurut seorang ahli filsafat jerman Tatens (1775) dalam teori Trichotomi, hidupnya  jiwa digerakkan oleh tiga daya (power) yaitu daya pikiran, daya perasaan dan daya kemauaan. Sedangkan menurut B. Bloom kehidupan jiwa dibagi dalam tiga ranah atau domain yaitu domain cognitif, domain affectif dan domian  psychomtoric. Menurut istilah bahasa Indonesia ketiga domain tersebut dapat diungkapkan sebagai Cipta, Rasa dan Karsa.
Aristoteles menterjemahkan pengertian Jiwa sebagai kekuatan hidup atau levens beginsel (sebabnya hidup). Jiwa adalah unsur kehidupan, karena tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Jadi baik manusia, hewan maupun tumbuhan menurut pendapat Aristoteles adalah berjiwa atau beranima. Berangkat dari pendapat ini maka terdapatlah tiga tingkatan kehidupan jiwa, yaitu :
  • Anima Vegetativa, yaitu anima yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Anima ini memberikan kemampuan untuk makan-minum dan berkembang biak.
  • Anima sensitiva, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada kalangan hewan. Anima ini memberi kemampuan  selain makan minum, berkembang biak juga kemampuan untuk mempertahankan dan melindungi diri dari bahaya, berpindah-pindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, dapat menyimpan pengalaman-pengalamannya.
  • Anima Intelektiva, yaitu anima atau jiwa yang hanya terdapat pada manusia. Anima ini mempunyai kemampuan yang paling sempurna. Selain kemampuan untuk tumbuh berkembang dan kemampuan-kemampuan sebagaimana terdapat pada kehidupan anima sensitiva, pada anima intelektiva ini juga terdapat kemampuan untuk berfikir, berkemauan atau berkehendak. Kemampuan berfikir dan berkehendak hanya mungkin terwujut bila akal budi dan alam pikir manusia selalu dilatih dan diasah dengan proses pembelajaran learn by doing maupun model pembelajaran learn by experiance. 
Menurut pandangan Aristotels anima yang lebih tinggi mencakup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimliki oleh anima yang lebih rendah. Anima Intelektiva merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegetativa merupakan tingkatan anima yang terendah.
Senada dengan penjelasan para pakar sebagaimana tersebut diatas, seorang tokoh pendidikan nasional Indonesia Ki Hadjar Dewantara memberi penjelasan tentang pengertian jiwa sebagai berikut.
  1. Jiwa adalah kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia
  2. Jiwa adalah esensi yang menyebabkan manusia dapat berfikir, berperasaan dan berkehendak (berbudi)
  3. Jiwa jugalah yang menyebabkan orang menjadi mengerti (know and understanding) atau insyaf, sadar (insight, awarness) akan segala gerak jiwanya. Sehingga jiwa memberikan kekuatan pada manusia untuk bertanggung jawab atas tingkah laku dan perbuatannya.
Sekalipun sulit untuk memberikan jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya jiwa itu, namun adanya kenyataan bahwa manusia itu berjiwa tidak dapat dibantah kebenarannya. Sekalipun jiwa itu sendiri tidak menampak, tetapi dapat dilihat keadaan-keadaan yang dapat dipandang sebagai gejala-gejala kehidupan jiwa. Misalnya orang yang sedang menggerutu menandakan bahwa orang tersebut sedang tidak senang hatinya, orang yang sedang ketawa-ketiwi bersama teman-temannya dapat diperkirakan bahwa orang tersebut sedang bersenang-senang, demikian pula sebaliknya orang yang wajahnya besengut dapat diduga kuat orang tersebut sedang bersedih hati, jengkel atau marah.
            Keharmonisan  perkembangan untuk seluruh aspek pribadi atau kejiwaan tersebut  sangat diperlukan, agar supaya tidak terjadi penojolan pekembangan untuk salah satu aspek pribadi saja yang akibatnya akan terjadi perkembangan yang ekstrem untuk satu aspek saja. Misalnya perkembangan yang ekstrem pada unsur cipta atau cognition akan menyebabkan manusia brsifat intelektualistis. Ekstrem pada perkembangan  rasa atau affectif  menyebabkan individu menjadi emosionalistis, perkembangan karsa menyebabkan voluntaristis, ekstrem pada perkembangan sifat sosial menyebabkan altruistis, ekstrem pada perkembangan individulitas menyebabkan  egoistis, ekstrem pada pemeliharaan raga saja menyebabkan  animalistis dan lain-lain sebagainya.

Pengertian dan Definisi Psikologi
  1. Willhem Wund : Psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the sciene of human consciousness) . Dari definisi ini para ahli psikologi akan mempelajari proses-pros elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini dapat dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan  dalam kesadaran manusia itu. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi.
  2. Woodworth and Marquis : Psikologi ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas-aktivitas individu, baik aktivitas motorik,kognitif maupun aktivitas emosional. Selengkapnya saya kutipkan penjelasan Woodword dan Marquis tentang definisi psikologi . Psychology can defined as the science of  the activity  of the individual. The word “activity” is used here in very broad sense. Includees not only motor activity like walking and speaking, but also cognitive (knowladge getting) activity like seeing,hearing, remembring and thinking, and emotional activity like laughing and crying and feeling or sad (Woordworth and Marquis, 1957).
  3. WJH. Sprott (1949). Psychology has been defined as the science of human behavior. Psikologi ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
  4. J.S. Ross (1953) Psychology is the study of behavior and its motives. (psikologi mempelajari perilaku dan motivasinya)
  5. Morgan (1984) Psychology is the science of human and animal behavior.
  6. W.J. Pitt (1954) Psychologi is defined  as the science that studies the human organism as influence by heredity and the dynamic force of experiance and environment (Psikology didefiniskan sebagai ilmu yang mempelajari organisme daripada sifat manusia yang dipengaruhi oleh sifat keturunan dan berbagai pengalaman yang dinamis yang didapat dari lingkungannya.
Dari sekian banyak difinisi tersebut diatas, hampir semua ahli menempatkan kata “behavior” sebagai obyek kajian psikologi. Lantas pertanyaan yang timbul dari pembatasan ini adalah “apakah tingkah laku atau behavior” itu ?
Perilaku Manusia
            Tingkah laku atau sering disingkat dengan kata perilaku adalah merupakan sekumpulan aktivitas psikofisik yang merupakan perwujutan atau manifestasi dari kehidupan kejiwaan
            Perilaku atau aktivitas yang ada pada manusia atau organisme tidak timbul dengan sendirinya atau timbul begitu saja, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang-rangsang yang mengenai individu. Perilaku adalah merupakan jawaban atau respon dari individu/organisme atas stimulus yang mengenainya. Karena itu pemunculan atau terjadinya perilaku dapat dirumuskan dengan formulasi umum sebagai berikut : R = f (S,O), dengan pengertian R adalah Respon atau perilaku, f adalah fungsi, S adalah stimulus dan O adalah organisme atau individu.
            Rumusan yang relatif sama juga dikemukakan oleh Kurt Lewin, dalam teori medan. Lewin menyatakan bahwa perilaku terbentuk karena fungsi interaksi antara enviorenment dan organisme. Jadi menurut Lewin B = f (E.O), dimana B adalah behavior atau tingkah laku, O adalah organisme atau individu dan E adalah eniviorenment atau lingkungan yang membawa stimulus dan  f adalah fungsi interaksi antara E dan O.

Jenis-Jenis Perilaku
            Secara garis besar perilaku manusia dibedakan antara perilaku yang disadari atau perilaku non reflektif dan perilaku yang tidak disadari atau disebut perilaku reflektif. Perilaku reflektif adalah perilaku yang terjadi sebagai respon spontan atas rangsang / stimulus yang mengenai organisme tersebut. Reaksi atau perilaku refliktif adalah perilaku yang terjadi dengan sendirinya secara otomatis. Stimulus atau rangsang yang diterima oleh organisme tidak sampai ke pusat susunan syaraf pusat sebagai pusat kesadaran dan sebagai pusat pengendali perilaku. Dalam perilaku yang reflektif respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh reseptor, begitu langsung respon timbul melalui afektor, tanpa melalui pusat kesadaran. Sebagai contoh misal reaksi pupil mata (kedipan) bila kena sinar yang besarnya melebihi ambang batas penerimaan maka mata akan memejam, juga ketika tangan tersulut api maka seketika tangan akan ditarik atau mengibas.
            Lain halnya dengan perilaku non reflektif, perilaku ini diatur atau ikendalikan oleh pusat kesadaran. Setelah stimulus diterima oleh reseptor maka selanjutnya diteruskan ke otak sebagai pusat kesadaran, baru kemudian direspon melalui afektor. Proses yang terjadi di dalam pusat kesadaran inilah yang disebut sebagai prose psikologis. Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis atau perilaku psikologis (baca, Branca, 1964)
Pembentukan Perilaku
            Sebagian besar perilaku manusia adalah perilaku yang dibentuk, perilaku yang disadari dan perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah satu persoalan yang muncul adalah pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana cara pembentukan perilaku tersebut. Ada tiga cara pembentukan perilaku :
  1. Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau membentuk kebiasaan. Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning adalah cara pembentukan perilaku dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan. Dengan pembiasaan ini diharapkan lambat laun akan terbentuk otomatisasi perilaku. Misalnya anak dibiasakan bangun pagi, seorang muslim dibiasakan bangun di tengah malam untuk menunaikan shalat tahajut, kebiasaan cuci tangan sebelum makan, gosok gigi sebelum tidur, berdoa sebelum berangkat kerja dan sebagainya.  Sekedar sebagai pengingat, konsep dasar cara pembentukan perilaku ini adalah didasarkan pada teori belajar kondisioning, baik yang dikemukakan oleh Pavlov, Thorndike dan Skinner.
  2. Pembentukan Perilaku dengan Pengertian (Insight), selain dengan pembiasan pembentukan perilaku dapat dilakukan dengan menanamkan pengertian atau membentuk insight. Misalnya berangkat sekolah harus pagi-pagi agar tidak terlambat sehingga tidak dimarahi oleh guru, datang kuliah jangan sampai terlambat karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. Bila naik sepeda motor harus menggunakan helm pengaman karena helm tersebut untuk menjaga keamanan diri dan masih banyak contoh lain untuk menggambarkan hal tersebut. Sekedar mengingatkan, model pembentukan perilaku dengan insight ni didasarkan pada konsep teori belajar kognitip yang dikembangkan oleh Kohler. Bila Thorndike lebih menekankan pentingnya pembiasaan atau latihan dalam belajar pembentukan perilaku, maka Kohler lebih menekankan pentingnya  memberi pengertian atau memunculkan insight. Kohler adala tokoh dalam psikologi Gestalt dan termasuk  dalam aliran kognitip.
  3. Pembentukan Perilaku dengan Menggunakan Model, yaitu pembentukan perilaku dengan menggunakan contoh yang bersumber dari model.Misalnya perilaku orang tua sebagai contoh model pembentukan perilaku anak-anaknya. Perilaku guru sebagai contoh model bagi murid-muridnya. Pimpinan dijadikan contoh atau model bagi yang dipimpinnya. Contoh-contoh tersebut  menujukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. 
4. Mengenal Beberapa teori Perilaku
            Teori adalah merupakan sekumpulan konstruk-konstruk hasil analisis kritis dari sejumlah gejala-gejala tertentu yang dikumpulkan dengan pendekatan ilmiah dan dipaparkan dalam suatu statment tertentu guna menjelaskan dinamika gejala-geala yang dimaksud.
            Perilaku sebagai sebuah gejala dapat dijelaskan dinamikanya melalui beberapa teori, dan beberapa sudut pandang filosofisnya. Teori teori tersebut diantaranya dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Teori Insting.
            Pada awal pemunculannya di tahu  1908, teori yang dikemukakan oleh Williem Mc. Dougall ini banyak mendapat kritik dan bahkan penolakan dari para ahli dan rekan sejawatnya pada waktu itu. Kritik dan penolakan tersebut karena teori yang dibangun tersebut sangat biological cetris. Mc. Dougall berpendapat,  perilaku manusia itu sangat dipengaruhi atau disebabkan oleh dorongan insting yang sudah build in dalam diri manusia sejak manusia tersebut dilahirkan. Menurutnya insting merupakan perilaku yang innate, perilaku yang bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena bertambahnya pengalaman
            Salah satu pengkritik Mc Dougall adalah Floyd Allport (1924). Ia tidak sependapat bila penyebab berperilakunya seseorang itu semata-mata karena disebabkan oleh dorongan insting. Floyd Allport berpendapat perilaku disebabkan oleh banyak faktor. Dari sekian banyak faktor tersebut yang paling menojol adalah faktor kehadiran atau keberadaan orang lain di sekitar kita. Keberadaan orang lain itulah yang mendorong orang berperilaku dengan cara-cara tertentu guna mewujutkan adaptasi diri sehingga individu merasa nyaman atau confortable.
2. Teori Dorongan  (drive theory).
            Teori ini berangkat dari asumsi bahwa setiap diri manusia mempunyai kebutuhan atau dorongan-dorongan (drive) tertentu. Dorongan-dorongan tersebut muncul karena terkait dengan adanya kebutuhan-kebutuhan yang mendorong individu berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Menurut teori ini, bila seseorang mempunyai kebutuhan maka akan terajadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila individu berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut. Hull menamai teori ini dengan nama drive reduction.
3. Teori insentif (insentive theory).
            Asumsi dasar dari teori ini adalah, bahwa perilaku organisme (manusia) itu disebabkan oleh karena adanya insentif. Insentif ini akan mendorong  orang itu berbuat atau berperilaku tertentu. Insentif dalam kontek teri ini disebit juga dengan istilah reinforcement. Ada reinforcemnt positif ada juga reinforcement negatif. Reinforcement positif adalah faktor penguat atau peneguh yang terkait denga  pemberian hadiah sedangkan reinforcement negatif berkaitan dengan pemberian hukuman. Reinforecemen positif akan mendorong seseorang untuk berbuat, sedangkan reinforcement negatif akan menghambat organisme berperilaku. Ini berarti bahwa perilaku timbul karena adanya insentif atau reinforcement. Perilaku semacm ini akan dikupas secara meluas dan mendalam dalam psikologi belajar.
 4. Teori Atriibusi
            Proses atribusi telah menarik  perhatian para pakar psikologi sejak lama dan telah menjadi obyek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa dekade terakhir. Cikal bakan atau pelopor teori atribusi berkembang dari tulisan Fritz Heider (1958) yang berudul “Psychology of Interpersonal Relations”. Dua teori yang paling menojol dari segi konsep dan penelitian dan akan kita beri penjelasan khusus pada bab-bab berikut pada buku ini adalah : Teori inferensi terkait (Correspondance Inference Theory) dari Jones and Davies  ko-variasi dari Harold Kelly (Kelly’s covariation theory)
            Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku orang. Apakah seseorang itu berperilaku karena disebabkan oleh disposisi internal (misalnya motif, sikap dsb) ataukah oleh keadaan ekternal. Bila seseorang menyimbulkan bahwa perbuatan seseorang karena disebabkan oleh tekanan luar maka seseorang tersebut telah melakukan atribusi ekternal terhadap orang lain yang dianalisanya, sebaliknya jika seseorang berkesimpulan bahwa penyebab suatu tindakan karena disebabkan oleh hal-hal internal maka seseorang tadi telah melakukan atribusi internal terhadap orang lain. 

2 komentar: