Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Tampilkan postingan dengan label psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

MENUJU SUKSES SPMB (Seleksi Penerimn Mahasiswa Baru)


Soleh Amini Yahman

Rahasia yang mengubah seseorang menjadi pemenang adalah lakukan hal yang biasa dengan cara yang luar biasa. Berbekal usaha, ketekunan, doa dan keberuntungan niscaya kemenagan dapat anda genggam.

Keyakinan yang kuat bahwa anda bisa akan mendorong anda untuk berusaha menjadi bisa, dan ketika anda bisa maka andalah sang pemenang itu.

Untuk menjadi pemenang sejati anda membutuhkan dua hal
1. mentalitas sebagai seorang pemenang
2. sikap kesatria ketika kalah

Pendahuluan
Seleksi penerimaan mahasiswa baru bagi lulusan SMA yang bermaksud meneruskan / melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sebenarnya sudah menjadi rutinitas akademik yang berlangsung setiap setahun sekali. Oleh karena itu, jika persiapan-persiapan yang diperlukan telah dipersiapkan sejak awal (sejak kelas 1 SMA). Maka seharusnya SPMB tidak menjadi momok atau menjadi beban bagi para anak didik pasca kelulusannya pada tingkat sekolah menengah atas.
Mengapa setiap kali SPMB digelar selalu menimbulkan “gejolak” dan irama kekemrungsungan pada anak-anak didik kita ? hal itu tidak lepas dari konsep dan cara berpikir yang tidak tepat dalam menghadapi atau mengikuti SPMB. Konsep dan cara berpikir yang salah tersebut adalah menempatkan SPMB sebagai pintu darurat untuk masuk gerbang kesuksesan. Akibat cara berpikir yang demikian itulah yang menyebabkan terjadinya perilaku atau tindakan dengan cara-cara yang darurat pula. Mengikuti bimbingan tes pada bulan-bulan terakhir menjelang SPMB adalah salah satu contoh cara bertindak yang salah, yang justru akan menimbulkan ketegangan mental dan menguras energi positif sehingga mengalami degradasi konsentrasi, stress dan disorientasi lingkungan. Jika ketiga hal tersebut terjadi pada diri seseorang maka akan terjadi pesimisme dan apatisme sehingga melumpuhkan ekpektasi dan daya juang.

Fakta Bicara
Sudah menjadi fakta bahwa setiap tahun tingkat persaingan untuk menembus UMPTN bahkan juga UMPTS atau SPMB semakin meningkat, baik persaingan secara kualitatif maupun kuantitatif. Keberhasilan menembus ketatnya persaingan dalam SPMB tidak lagi semata-mata hanya ditentukan oleh kesiapan akademik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sikap mental serta pengetahuan-pengetahuan teknis terkait prosedur pendaftaran yang semakin canggih dan modern. Kesalahan teknis administratif atau salah akan berakibat fatal. Salah mengisi data berarti kalah sebelum berperang dimulai. Sebab itu data harus diisi dengan hati-hati dan benar. Ikutilah semua petunjuk yang ada dalam buku panduan SPMB dan jangan percaya pada cara yang disampaikan oleh siapapun jika cara tersebut berbeda dengan apa yang diutarakan dalam buku panduan.
Hal lain yang tidak kalah urgen ntuk dipersiapkan dalam menembus SPMB adalah masalah bagaimana membangun STRATEGI. Strategi adalah rencana yang cermat dan efektif mengenai kegiatan, langkah dan metode untuk mencapai sasaran. Dengan demikian strategi merupakan faktor yang dominan dalam meraih sukses. Kesalahan strategi bisa meliputi strategi belajar, Strategi memilih jurusan, Strategi persiapan dan lain sebagainya.

Strategi Umum : Petunjuk Singkat

1. Persiapan Fisik :
a. Jaga Kondisi Fisik agar slalu fit dan Prima. Keluhan kesehatan sekecil apapun pada saat hari H dapat mempengaruhi konsentrasi. Oleh karena itu kurangi begadang karena akan menguras energi.
b. Berolah raga secara teratur : lakukan jogging minimal seminggu 1 X dan lakukan olah raga sesuai hobby. Hal ini akan membuat tubuh menjadi fresh dan siap action !
c. Makanlah makanan yang bergizi : makanlah 3 kali sehari (tidak harus mahal-mahal) yang penting dapat memenuhi keseimbangan gizi, protein, karbohidrat (pokoknya kayak yang di empat sehat lima sempurna itu lho)
2. Persiapan Mental Dan Spirtual
a. Berpikir positif dan optimistik : Konsistenkan sikap bahwa “saya Bisa !!” saya bisa berhasil, saya dapat mencapainya. Jauhi sikap pesimis dan jangan mudah terprovokasi atas pilihan jurusan yang anda inginkan.
b. Pelajari kisi-kisi soal UMPTN, berlatihlah soal-soal dari bank soal UMPTN secara teratur. Ikuti tryout UMPTN/SPMB untuk bahan refleksi kesiapan diri.
c. Jika prestasi di Raport tidak terlalu menggembirakan, janganlah minder, karena tidak ada aturan baku bahwa SPMB/UMPTN/UMPTS hanya bagi mereka yang nilainya gilang gemilang.
d. Kenali potensi diri dan keinginan terdalam saat pemilihan jurusan. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan potensi diri dan keinginan anda yang terdalam. Bukan memilih jurusan karena trend semata-mata. Bila jurusan anda sesuai dengan keinginan terdalam anda, maka akan membuat diri anda bersemangat menghadapi SPMB.

Tentang PTN dan PTS
Hingga saat ini pandangan yang bersifat dikotomik tentang PTN dan PTS masih terus berlangsung. Jika kita mengacu pada konsep pola tunggal pembinaan PTN dan PTS yang mulai diterapkan oleh pemerintah sejak tahun 1987, maka cara pandangan yang diskrimintip tentang PTN dan PTS tersebut harusnya sudah terkikis. Hari gini masih mempersoalkan masalah status PTN/PTS....? Apalagi dengan telah disahkannya undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) maka secara dejure seharusnya tidak ada lagi status PTN dan status PTS. Lebih lagi dengan adanya akreditasi perguruan tinggi yang dilakukan oleh BANPT (badan akreditasi perguruan tinggi) yang melakukan akreditasi tidak saja pada PTS melainkan juga PTN.
Namun demikian masyarakat memang harus tetap memasang kewaspadaan dan keberhati-hatian terhadap sejumlah PTS yang tidak bermutu, yang hanya berorientasi pada bisnis semata-mata, bahkan kadang-kadang melakukanpembohongan atau penipuan terhadap peserta didik. Maka masyarakat harus melakukan chek and re chek dan melakukan konfirmasi atau penelitian yang seksama sebelum memutuskan memasukkan putra-putrinya untuk kuliah atau belajar di PTS. Konfirmasi tentang status dan eksistensi PTS dapat dilihat melalui web-nya Kopertis atau di direktorat pendidikan tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas.

Tips Sukses SPMB

Buat kamu-kamu yang pengen ikutan spmb, berikut ada sedikit tips praktis tentang persiapan menjelang umptn. Sebenarnya kamu-kamu nggak perlu takut ya untuk ikutan spmb, yang penting kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi spmb.

Langkah pertama :

Kalo mau ikutan spmb, ya... Diniatkan yang mantap, jangan setengah hati. Siapkan semua "senjata" serta "perlengkapan perang" untuk menghadapi yang satu ini. Mantapkan tujuan kita pengen masuk kemana, misalnya kedokteran ui, teknik elektro itb, psikologi ugm atau teknik mesin undip. Pertimbangkan pula keadaan ekonomi orang tua, cita-cita, harapan orang tua, serta peluang kerjanya setelah lulus nanti.

Beli atau pinjam soal-soal spmb tahun-tahun terdahulu dari kakak-kakak kelas atau saudara, terus kerjakan soal-soal itu sebanyak mungkin. Karena soal spmb itu mengulang dari soal-soal tahun terdahulu, paling angkanya yang berubah. Oya, dari dulu spmb itu namanya selalu berubah, tapi inti-nya tetap sama. Dulu namanya proyek perintis, skalu, sipenmaru, umptn kemudian spmb.

Juga jangan remehkan mata ujian hari pertama, terutama bahasa indonesia. Rugi lho kalo nilai bhs. Indonesianya kecil, karena itu merupakan tambang nilai di spmb. Minimal bisa 25 soal yang benar.

Langkah kedua :

Kalo bisa ikutan bimbingan belajar alias bimbel, tapi kalo nggak bisa, usahakan untuk mencari referensi lain di luar bimbel, jangan malu minta ajarin sama kakak kelas yang sudah kuliah, bahkan jangan malu juga nanya sama adik kelas yang lebih pintar. Yang penting kan ilmunya bisa diserap.

Langkah ketiga :

Untuk mengukur sejauh mana persiapan dan kemampuan kita, ikut try-out spmb, pasti donk banyak tempat atau instansi di kotamu yang ngadain try-out spmb. So jangan ragu untuk ikutan. Begitu keluar nilai try-out kamu segera cocokkan sendiri dengan passing grade jurusan dan ptn yang akan kamu tuju. Kalo nilainya cukup pilih saja, tapi kalo nggak cukup pilih alternatif lain, misalnya pilih jurusan atau ptn dengan nilai passing grade yang lebih rendah. O,ya untuk bisa mengetahui nilai passing grade jurusan di ptn, bisa dilihat di bimbel atau tanya saja sama teman yang ikutan bimbel. Jangan segan untuk konsultasi ke pengajar bimbel ataupun ke kakak kelas yang pernah lulus umptn.

Langkah keempat :

Jangan lupa untuk selalu meminta petunjuk serta pertolongan dari allah, karena hanya allah yang akan menentukan segalanya. Perbanyak ibadah sunnah, misalnya shalat qiyamul lail, puasa senin kamis, shalat dhuha, dll

Langkah kelima :

Hati-hati dengan masalah teknis pengisian formulir pendaftaran. Pengisian formulir harus tepat dan hati-hati. Tidak boleh kotor, basah, terlipat atau lecek. Karena formulir umptn akan dibaca oleh komputer sehingga hal-hal tsb sangat berpengaruh. Sayang kan..., kalo sampai terjadi "kecelakaan" pada formulir spmb, padahal sebenarnya nilai spmb kamu cukup tinggi.

Langkah keenam :

Jangan lupa untuk survei tempat umptn minimal 2 hari sebelum spmb. Ambil resiko terburuk yaitu mendapatkan meja atau tempat duduk yang kurang memadai. Jadi, siapin semaksimal mungkin. Dan pada malam hari sebelum spmb jangan terlalu banyak belajar ataupun kegiatan berat lainnya, tapi istirahat untuk menenangkan pikiran, agar besoknya bisa segar. Pakailah pakaian yang nyaman, agar tidak menggangu konsentrasi.

Siapkan "senjata-senjata" berikut : minimal 4 mata pensil 2b yang siap pakai, bisa dengan menyerut 2 ujung pensil 2b, penghapus yang bersih, penggaris, klip/penjepit kertas minimal 5 buah, pulpen, tissue/saputangan, alas, jam yang tepat, air minum. O, ya kartu ujian-nya nggak boleh lupa lho...

Kalo bisa datang jangan terlalu kepagian atau terlambat. Kalo kepagian kita bisa be-te nungguin lama, kalo telat kita juga nggak tenang ngerjain soal. Waktu optimalnya kira-kira 15 menit sebelum masuk. Hindari membawa buku yang banyak, karena memberatkan, cukup "senjata" saja yang dibawa. Yakinlah bahwa kamu telah mengisi form nama, nomor ujian dan kode soal dengan benar. Jangan lupa periksa berulang-ulang.

Untuk mengerjakan soal-soal hitungan, pertama bukalah klip pada naskah soal, kemudian pisahkan satu-satu per mata pelajaran, jepit dengan klip/penjepit kertas yang telah kamu siapkan, nah, misalnya untuk mengerjakan soal fisika, dapat menghitung/mencoret-coret pada belakang naskah soal pelajaran lainnya. Lebih mudah khan??

Kerjakanlah soal yang kamu anggap paling mudah terlebih dahulu baru meningkat ke yang sedang kemudian yang sulit, sisakan waktu minimal 15 menit untuk memindahkan ke lembar jawaban. Manfaatkan waktu-waktu "injury time" untuk mengecek terakhir kebenaran form nama, nomor dll serta jawaban pada lembar jawaban komputer. Jangan terburu-buru tapi juga jangan membuang waktu. Hindari pekerjaan yang membuang waktu misalnya menyerut pensil, dsb. Rugi lho.

Setelah selesai ujian, langsung pulang, jangan keluyuran, siapkan untuk hari kedua. Kalo perlu sembunyikan lembaran soal yang kita bawa pulang. Hindari ajakan teman untuk membahas soal atau mengungkit-ungkit tentang umptn, karena akan sangat mengganggu "jiwa" kita. Kecuali kalo sudah "kebal" sih nggak apa-apa. Kalau ketemu teman cukup dengan obrolan yang ringan saja.

Hal-hal yang tak kalah penting dalam pemilihan jurusan

Sebelum memilih jurusan, ada baiknya cari informasi terlebih dahulu agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Tanya-tanya sama kakak kelas atau teman, bagaimana kuliahnya, dosennya, fasilitasnya, pergaulannya, ospeknya, biaya kuliahnya, praktikumnya, dll.

Sumber : syahril_dian@yahoo.com

Bagi Anda peserta SPMB 2010/2011, Selamat meraih jurusan dan universitas yang Anda idam-idamkan !

Minggu, 30 Mei 2010

STRATEGI BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Drs.Soleh Amini YahmanMSi

Pendahuluan
Kehidupan seorang mahasiswa perguruan tinggi dengan siswa sekolah menengah, adalah sangat jauh berbeda. Seorang mahasiswa adalah sosok pribadi yang dinyatakan telah dewasa dalam arti sebenarnya. Ia bukan lagi sebagai pribadi yang selalu tergantung kepada ibu-bapak guru dalam belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Dalam diri seorang mahasiswa harus teranam sikap mandiri, dalam arti mampu dan bisa memecahkan problem kesulitan-kesulitan yang ditemuinya, baik kesulitan di bangku kuliah maupun di dalam kehidupannya sehari-hari. Peran dosen dalam kehidupan seorang mahasiswa di perguruan tinggi hanyalah sebagai fasilitator, bukan guru atau resi yang ‘menurunkan’ ilmunya kepada para murid-muridnya. Oleh karena itu, hubungan antara mahasiswa dengan dosen bukan bersifat struktural, bukan hubungan yang sifatnya atas bawah atau hubungan yang bersifat patron- klien. Hubungan dosen dan mahasiswa adalah bersifat kemitraan, meskipun bukan berarti kesejajaran. Hubungan dosen dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar harus bersifat take and give, yaitu hubungan yang saling memberi dan menerima. Dari statment ini maka dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi mahasiswa harus benar-benar mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan yang luas. Tanpa membekali diri dengan pengetahuan tersebut maka mahasiswa akan sulit mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

Memasuki dunia mahasiswa berarti memasuki dunia manusia dewasa. Pada awal-awal perkuliahan sangat sering terjadi konflik identitas diri pada mahasiswa baru. Hal ini lebih disebabkan karena terjadinya transisi kultural dan psikologis dari seorang remaja SLTA menuju manusia dewasa yang disebut mahasiswa. Mahasiswa baru sering dibuat bingung oleh sistem dan manajemen proses belajar mengajar, serta kultur kehidupan di perguruan tinggi. Sistem SKS misalnya, adalah sistem belajar mandiri yang menuntut mahasiswa untuk mampu mengukur kemampuan dirinya sendiri (self assesment) dalam menentukan mata kuliah apa yang mesti ditempuh atau diambil dalam masa perkuliahan setiap semesternya. Dalam sistem SKS tersebut mahasiswa diberi kewenangan untuk menentukan perkuliahan apa yang akan ditempuhnya. Untuk membantu mahasiswa agar tepat guna dalam penentuan mata kuliah itu maka, Fakultas atau Universitas memberikan/menujuk PA (pembimbing akademik) pada masing-masing mahasiswa. Peran PA tidak lebih hanya “membantu” mahasiswa agar proses belajarnya terarah dan tidak salah langkah saja, tetapi juga menjadi nara sumber bagai mahasiswa ketika menghadapi persoalan-persoalan akademik di perguraun tingi. Oleh karena itu optimalisasikan peran dan fungsi PA anda dalam kehidupan anda sebagai mahasiswa. Jadikan PA anda sebagai mitra dialog dan rekan diskusi dalam setiap kali menghadapi masalah akademik maupun non akademik. PA bukan hanya tukang tanda tangan KRS saja.
Belajar di Perguruan Tinggi
Belajar adalah merupakan aktivitas mental tingkat tinggi yang melibatkan unsur kognisi, afeksi, konasi dan psikomotorik. Untuk dapat belajar secara baik, sehat dan benar diperlukan mental yang sehat, fisik yang sehat dan sikap yang sehat.
Landasan utama bagi pembentukan cara belajar yang baik pada setiap diri mahasiswa ialah memiliki sikap mental tertentu. Suatu sikap mental yang ditumbuhkan dan dipelihara dengan sebaik-baiknya akan membuat seorang mahasiswa mempunyai senjata berupa kesediaan mental . Tanpa kesiapan mental itu para mahasiswa pada umumnya tidak akan dapat bertahan terhadap berbagai kesukaran-kesukaran yang dihadapi di bangku kuliah. Sikap mental yang perlu diusahakan oleh setiap mahasiswa sekurang-kurangnya meliputi empat segi, yaitu:
1. Tujuan Belajar
2. Minat terhadap Pelajaran
3. Kepercayaan pada diri sendiri
4. Keuletan
1. Tujuan Belajar
Belajar di perguruan tinggi harus diarahkan kepada suatu cita-cita tertentu. Cita-cita yang diperjuangkan dengan berbagai kegiatan belajar itu lalu menjadi tujuan belajar dari setiap mahasiswa. Biasanya tujuan belajar di perguruan tinggi ini bersambung pula dengan tujuan hidupnya. Apakah kelak ia ingin menjadi ahli hukum, pengacara, notaris, akuntan, insinyur, dokter, militer dan sebagainya. Tujuan belajar yang bersambung dengan cita-cita di masa depan itu akan merupakan suatu pendorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Tanpa motif tertentu , semangat belajar seseorang mahasiswa akan mudah padam karena ia tidak merasa mempunyai sesuatu kepentingan yang harus diperjuangkan. Oleh karena itu, karena saat ini anda telah menentukan pilihan pada Fakultas HUKUM (misalnya) maka , bulatkan tekad dan cita-cita anda untuk menjadi ahli hukum atau praktisi hukum. Kalau cita-cita anda di luar dunia hukum maka lebih baik anda segera cabut dari Fakultas hukum saat ini juga. Jangan kuliah karena prinsip” daripada nggak kuliah”, atau karena tidak diterima di fakultas lain !!
Dalam menentukan cita-cita itu, hendaklah seorang pelajar tidak semata-mata berpegang pada hasrat hatinya saja. Kemampuan diri sendiri juga harus diperhitungkan. Telitilah kelemahan-kelemahan diri sendiri berdasarkan angka-angka raport selama di sekolah menengah. Pilihlah jurusan atau fakultas yang mata pelajaran pokoknya dulu selain disukai juga memberikan hasil angka-angka yang tinggi. Kemampuan keuangan juga perlu diperhitungkan, jangan sampai kuliah berhenti di tengah jalan karena ketiadan biaya.
2. Minat Terhadap Pelajaran.
Setelah mulai belajar, hendaknya setiap mahasiswa menaruh minat yang sebasar-besarnya terhadap pelajaran yang diikuti. Minat itu tidak hanya ditujukan kepada satu atau dua mata pelajaran yang pokok saja, melainkan juga terhadap semua mata pelajaran. Suatu mata pelajaran (mata kuliah) hanya akan dapat dipelajari dengan baik apabila si pelajar dapat memusatkan perhatiannya terhadap pelajarannya itu. Minat merupakan salah satu faktor yang memungkinkan terjadinya konsentrasi itu. Dengan kata lain tanpa minat tidak akan terjadi perhatian. Contoh misalnya : Seorang pecatur atau pemain kartu, dapat sehari penuh duduk dan memusatkan perhatian dan pikirannya bermain catur atau kartu, karena ia mempunyai minat yang besar terhadap catur dan kartu. Demikian pula seorang pemancing yang mampu duduk berjam-jam di tengah gelapnya malam atau teriknya matahari, karena ia sangat berminat dan menyukai pekerjaan memancing.
Minat selain memungkinkan pemusatan perhatian, juga akan menimbulkan kegembiraan dalam usaha belajar. Keriangan hati akan memperbesar daya kemampuan belajar seseorang dan juga membantunya untuk tidak mudah melupakan apa yang dipelajarinya itu. Belajar dengan perasaan yang tidak gembira akan membuat pelajaran itu terasa sangat berat.
3. Kepercayaan Pada Diri Sendiri.
Setiap mahasiswa harus yakin bahwa ia mempunyai kemampuan untuk memperoleh hasil yang baik dalam usaha belajarnya. Dengan adanya self confidance (rasa percaya diri ) dan self acceptance (penerimaan diri sendiri) ini mahasiswa pasti akan dapat mengikuti dan mengerti pelajaran-pelajaran di fakultasnya dengan baik. Namun demikian, dalam membangun rasa percaya diri ini seorang mahasiswa juga harus rasional , dalam arti tidak asala percaya diri tanpa mempersiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri harus dibarengi dengan sikap waspada, sehingga mahasiswa tidak terjebak pada sikap “asal wani’ dan asal maju saja. Kalau ini yang terjadi, maka ini namanya sembrono.
Setelah belajar dengan baik, ujian-ujian hendaknya diikuti dengan penuh percaya diri. Jangan merasa ragu-ragu untuk menempuh ujian, selama anda telah benar-benar mempersiapkan diri dengan belajar sebelumnya. Kata “belajar” yang dimaksud di sini bukan sekedar menghafal materi pelajaran semalam suntuk, tetapi lebih pada memahami (understanding) pada isi pelajaran.
Mahasiswa yang memiliki rasa percaya diri postip, pasti tidak akan pernah melakukan kecurangan-kecurangan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Misalnya mencontek, menyalin pekerjaan teman atau memanipulasi tugas denga membohongi dosennya dan sebagainya. Menyontek adalah cerminan tidak adanya rasa percaya diri. Kalau masalahnya takut tidak lulus maka penyelesainnya bukan dengan cara menyontek, tetapi dialogkan dengan dosen mengapa setelah menempuh 2 atau 3 kali ujian koq belum lulus juga. Hindari tindakan menyontek sejak awal anda kuliah. !!
Kepercayaan pada diri sendiri perlu sekali dipupuk sebagai salah satu persiapan rohani untuk berjuang di perguruan tinggi. Kepercayaan itu dapat dipupuk dan dikembangkan dengan jalan belajar tekun. Hendaknya setiap mahasiswa menginsafi sepenuhnya bahwa tidak ada mata pelajaran yang tidak dapat dipahami kalau ia mau belajar dengan giat setiap hari. Selanjutnya hendaknya mahasiswa tidak terlampau bergantung diri kepada kawan di dalam usaha belajarnya. Tugas tugas mandiri (take home examination) cobalah selalu diselesaikan sendiri, baru kalau benar-benar mentok dibahas bersama-sama teman lainnya.
4. Keuletan
Yang memulia pekerjaan itu banyak, tetapi yang dapat bertahan hingga proses pekerjaan itu berakhir hanyalah sedikit, Demikian pula yang memasuki perguruan tinggi setiap tahunnya sangat banyak, tetapi yang bisa bertahan sampai pelajarannya selesai tidaklah banyak.
Kehidupan mahasiswa selam belajar di PT itu penuh dengan kesdulitan kesulitan. Mulai dari kesulitan akademik, kesulitan finansial, kesulitan sosiokultural, kesulitan lingkungan dan sebagainya, Kesulitan-kesulitan tersebut akan lebih terasa bagi mahasiswa yang bekerja dan atau telah berkeluarga. Oleh karena itu setiap mahasiswa harus mempunyai “keuletan” dan kesemamptaan jasmani rohani, mental maupun fsiknya. Keuletan rohani jasmani akan membuat mahasiswa beranai menghadapi segala kesulitan dan tidak mudah putus asa. Untuk memupuk keuletan itu maka hendklah kesulitan itu ditempatkan / dipandang sebagai tantangan yang harus dihadapi bukan sebagai penghambat yang membuatnya nglokro. Motivasi yang kuat akan menjadi sumber yang besar dalam menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan tadi.

Kamis, 13 Mei 2010

MENUJU SUKSES BELAJAR, KARIER DAN KELUARGA


Soleh Amini Yahman

Pendahuluan

Membaca judul tulisan di atas, rasanya sebagai sesuatu yang imposible bila ketiganya bisa diraih secara bersama-sama. Artinya tidak mungkin seseorang bisa meraih sukses bersamaan pada tiga aktivitas sekaligus, yaitu sukses belajar, sukses kareir dan keluarga. Mengapa demikian ?

Karena ketiga bidang kegiatan tersebut merupakan suatu proses sosiopsikofisik yang luar biasa beratnya. Dengan keterbatasan insaniahnya, manusia sulit mencapai sukses ketiganya secara bersama-sama. Bila hal tersebut dipaksakan, maka besar kemungkinan akan terjadi proses degradasi mental yang menyebabkan seseorang menjadi “frustrasi” stress atau gangguan kejiwaan lainnya. Untuk menghindari terjadinya hal-hal negatif tersebut maka, seseorang (mahasiswa) harus “tahu diri” , dalam arti bisa mengukur kemampuan psikofisik dan sosial. Ketiga sukses terebut akan tercapai atau teraih secara simultan, bila individu dapat mengetrapkan falsafah “ambeg paromoartha” yaitu falsafat yang berarti “mendahulukan/memperioritaskan hal yang lebih penting dahulu.
I. Belajar di Perguruan Tinggi
Kehidupan seorang mahasiswa perguruan tinggi dengan siswa sekolah menengah, adalah sangat jauh berbeda. Memasuki dunia mahasiswa berarti memasuki dunia manusia dewasa, ia telah ditasbihkan sebagai sosok pribadi yang dinyatakan telah dewasa dalam arti yang sebenarnya. Ia bukan lagi sebagai pribadi yang selalu tergantung kepada bapak ibu guru dalam belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Dalam diri seorang mahasiswa harus tertanam sikap mandiri, dalam arti mampu dan bisa memecahkan problem kesulitan-kesulitan yang ditemuinya, baik kesulitan di bangku kuliah maupun di dalam kehidupannya sehari-hari. Peran dosen dalam kehidupan seorang mahasiswa di perguruan tinggi hanyalah sebagai fasilitator, bukan sebagai guru atau resi yang menurunkan ilmunya kepada murit-muritnya. Oleh karena itu , hubungan antara mahasiswa dengan dosen bukan bersifat struktural, bukan hubungan yang sifatnya up-down atau hubungan yang bersifat patron-klien. Hubungan dosen dan mahasiswa adalah bersifat kemitraan meskipun bukan berarti kesejajaran. Hubungan dosen – mahasiswa dalam proses belajar harus bersifat take and give , yaitu hubungan yang saling memberi dan menerima. Dari statement ini maka dalam proses belajar di perguruan tinggi, mahasiswa harus benar-benar mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan yang luas. Tanpa bekal tersebut, mahasiswa akan mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran di perguruan tinggi. Salah satu kiat untuk hal tersebut adalah menggiatkan kegemaran membaca. Dengan membaca (apa saja, terutama yang berkaitan dengan minat keilmuannya) akan membuka cakrawala wawasan seluas-luanya, gemar mengikuti kegiatan ilmiah (misalnya seminar, diskusi, panel, work shop, riset dan sebagainya) dan bergaul dengan orang-orang intelek.
Belajar adalah merupakan aktivitas mental tingkat tinggi yang melibatkan unsur kognisi, afeksi, konasi dan psikomotorik. Untuk dapat belajar secara baik, sehat dan benar diperlukan sikap mental yang sehat, fisik yang sehat dan cara pandang yang sehat pula.
Landasan utama bagi pembentukan cara belajar yang baik adalah adanya sikap mental yang baik. Ada empat sikap mental yang harus dikembangkan setiap mahasiswa agar dapat belajar secara sehat, benar dan sukses di perguruan Tinggi, yaitu.
1. Tentukan tujuan Belajar Sejak awal
2. Kembangkan Minat terhadap Pelajaran
3. Tumbuhkan Kepercayaan Pada diri Sendiri
4. Wujutkan Keuletan dalam belajar

1.Tentukan Tujuan Belajar.
Belajar di Perguruan tinggi harus diarahkan kepada suatu cita-cita tertentu. Cita-cita yang diperjuangkan dengan kegiatan belajar tersebut lalu menjadi tujuan belajar. Biasanya tujuan belajar di perguruan tinggi akan bersambung dengan tujuan hidupnya. Apakah kelak ia ingin jadi dokter, ahli hukum, akuntan, pengusaha, militer dan sebagainya. Tujuan belajar yang bersambung dengan cita-cita di masa depan itu akan merupakan suatu pendorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Tanpa motif untuk meraih cita-cita maka semangat belajar akan padam, itu artinya keberadaan anda sebagai mahasiswa di perguruan tinggi hanyalah sebagai penggembira dan '‘dari pada nganggur saja di rumah”. Belajar tanpa cita-cita dan tujuan masa depan sama dengan layangan putus yang melayang tanpa arah. Oleh akrena itu karena saat ini anda telah memutuskan untuk belajar ilmu ekonomi (misalnya) maka bulatkan tekad anda untuk menjadi ekonom atau ahli ilmu ekonomi. Kalau cita-cita anda di luar dunia ekonomi lebih baik anda segera cabut dari STIE-S sekarang juga. Jangan memutusakan kuliah di STIE ini kerena prinsip “daripada nggak kuliah” atau karena ikut teman. Karena STIE-S bukan keranjang sampah untuk menampung para penganggur-penganggur berduit.

2. Minat terhadap Pelajaran
Setelah memulai belajar, hendaklah setiap mahasiswa menaruh minat yang sebesar-besarnya terhadap pelajaran yang diikuti. Minat tidak hanya ditujukan kepada satu atau dua mata pelajar yang pokok saja, melainkan juga terhadap semua mata pelajaran. Suatu pelajaran akan dapat diikuti dengan baik bila di dalam diri pelajar ada minat, sebab dengan minat itulah konstrentrasi akan terbentuk.

3. Kepercayaan Pada Diri Sendiri.
Setiap mahasiswa harus yakin bahwa ia mempunyai kemampuan untuk memperoleh hasil yang baik dalam usaha belajrnya. Dengan self confidance (rasa percaya diri) dan self acceptance (penerimaan diri sendiri) ini mahasiswa pasti akan dapat mengikuti dan mengerti pelajaran-pelajaran di fakultasnya dengan baik. Namun demikian , dalam membangun rasa percaya diri ini juga harus rasional, dalam arti asal percaya diri tanpa mempersiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri harus dibarengi dengan kemampuan menghitung kemampuan diri alias waspada, sehingga tidak "asal wani” dan asal maju. Kalau ini yang terjadi, maka ini namanya sembrono. Dengan rasa percaya diri maka tidak ada mahsiswa yang nyontek jika ujian. Rasa percaya diri yang positip akan menjauhkan mahasiswa dari perilaku curang dan kenistaan intelektual dalam kegiatan akademiknya.
4. Keuletan
Yang memulai pekerjaan itu banyak, tetapi yang dapat tahan hingga proses pekerjaan itu berakhir hanyalah sedikit. Demikian pula yang memasuki perguruan tinggi setiap tahunnya sangat banyak, tetapi yang bisa tahan sampai selesai pelajarannya tidaklah banyak.
Kehidupan mahasiswa selama belajar di perguruan tinggi itu penuh dengan kesulitan-kesulitan. Mulai dari kesulitan akademik, kesulitan finansial, kesulitan sosiokultural, kesulitan lingkungan dan sebagainya. Kesulitan-kesulitan tersebut akan lebih terasa lagi bagi mahasiswa yang bekerja atau dan yang telah berkeluarga.. Oleh karena itu setiap mahasiswa harus mempunyai “keuletan’ dan kesemaptaan jasmani rohani, mental maupun fisikalnya. Keuletan rohani jasmani akan membuat mahasiswa berani menghadapi segala kesulitan dan tidak mudah pustus asa. Untuk memupuk keuletan itu maka hendaklah kesulitan itu ditempatkan / dipandang sebagai tantangan yang harus dihadapi, bukan sebagai penghambat yang membuatnya nglokro. Motivasi yang kuat akan menjadi sumber energi yang besar dalam menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan tadi.
II. Menuju Bekerja Sukses
Bekerja adalah merupakan proses psikofisik sebagai salah satu wujut aktualisasi diri manusia. Dengan bekerja seseorang merasa memperoleh kepuasan jasmani dan rohani.
Keberhasilan bekerja tidak terlepas dari keberhasilan seseorang dalam proses pembelajaran sebelumnya. Keberhasilan proses pembelajaran yang dimaksudkan di sini bukan terletak pada perolehan angka indeks prestasi hasil belajar formal yang diperoleh seseorang dari bangku sekolah atau perguruan tinggi. Keberhasilan belajar yang dimaksud di sini adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan kemudian mengetrapkan pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya tersebut dalam bentuk kreatifitas karya. Untuk menuju sukses bekerja, bagi seorang mahasiswa yang belajar sambil bekerja harus pandai-pandai memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk bekerja. Pekerjaan bagaimanapun juga tidak boleh dilakukan dengan tidak bertanggung jawab, karena alasan sedang belajar. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja harus berani menghadapi resiko, kuliahnya agak panjang dibanding mahasiswa yang tidak bekerja. Keberanian dituntut jika yang bersangkutan benar-benar ingin sukses kedua-duanya, meskipun tidak bersamaan waktunya.
III. Sukses Membangun Keluarga.
Keluarga adalah segala-galanya bagi kehidupan manusia. Belajar, bekerja dan berkarya, semuanya akan bermuara pada keluarga. Di dalam keluarga inilah seseorang mencurahkan hidupnya, sehingga tidak ada artinya sukses belajar, sukses bekerja kalau hancur kehidupan keluarganya. Sukses belajar, sukses bekerja harus diarahkan untuk suksesnya kehidupan keluarga. Belajar dan bekerja diniatkan untuk bekal berkeluarga Oleh karena itu , bagi mahasiswa yang belum berkeluarga, tetapi sudah bekerja hendaklah dibiasakan hidup hemat dan suka menabung. Sedang mahasiswa yang sudah bekerja dan berkeluarga , hendaklah mempersiapkan dan mendesain kegiatan belajarnya dengan menyusun skala kepentingan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Membangun pengertian antar anggota keluarga
2. Membuat skala prioritas dalam memenuhi kepentingan belajar, bekerja dan kepentingan keluarga.
3. Memfokuskan kegiatan belajar, bekerja dan berkarya untuk sukses keluarga.
4. Menempatkan keluarga sebagai bagian dari proses belajar dan bekerjanya
5. Menempatkan keluarga di atas segala kegiatan yang ada.


Presentasi Pembelajaran Model Active Learning



Drs. Soleh Amini Yahman. MSi.
Psi


Pendahuluan.
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah sebuah proses interaksi psikoakademik, sosioakademik, dan culturalacademik sehingga perlu dibangun hubungan yang berkeseimbangan antara ketiga unsur tersebut dalam interaksi pembelajaran . Salah satu media yang memungkinkan terciptanya hubungan yang berimbang dan berkesinambungan tersebut adalah penciptaan“suasana belajar” yang sehat, menyenangkan dan menggemberikan. Suasana belajar yang sehat, menyenangkan dan menggembirakan tersebut hanya mungkin terwujut bila proses pembelajaran dilakukan dalam kerangka “proses pembelajaran aktive (active learning proces). Yaitu model pembelajaran yang mengedepankan peran serta dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran itu. Oleh karena tujuan pembelajaran akan tercapai bila guru (instruktur) dan murid (treainee) serta sarana prasarana pembelajaran telah dipersiapakan dengan baik.


Mengajar dan Presentasi
Mengajar dan presentasi adalah dua hal yang sama tetapi mengandung muatan yang berbeda. Siapapun yang melakukan proses pengajaran pasti melakukan presentasi. Tetapi kegiatan presentasi belum tentu mengandung muatan pembelajaran. Jadi jelaslah bahwa seorang pengajar mempunyai tugas yang berbeda dengan seorang presenter. Dalam kegiatan ini saya asumsikan anda semua akan melakukan kegiatan pengajaran dalam bentuk presentasi terbuka, dan saya asumsikan pula bahwa anda sudah menguasai materi pengajaran anda. Maka dari itu tulisan ini akan memberikan panduan kepada anda bagaimana menjadi presenter yang menyenangkan dan menggembirakan sehingga tugas pengajaran yang menjadi tugas anda dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa-siswi anda.

Mengajar
Dalam kaidah pembelajaran akademik, mengajar adalah merupakan rangkaian dari suatu proses komunikasi ilmiah yang terjadi antara guru dan murid. Dalam proses mengajar aspek kognitif menjadi main target atau target utama guna membentuk suatu pemahaman kuantitatif maupun kualitatif terhadap suatu satuan mata pelajaran tertentu. Parameter keberhasilan proses mengajar ini dilihat dari indek nilai yang dicapai oleh murid dalam mengerjakan evaluasi belajar, baik berupa ujian tengah semester, ujian semeaster, ujian nasional atau bentuk bentuk evaluasi belajar lainnya. Semakin tinggi indek nilai yang diperoleh siswa maka siswa tersebut dikatakan telah menguasai materi dari suatu satuan mata pelajaran tertentu. Salah satu kelemahan dari mengajar adalah arus komunikasi akademik cenderung searah (one way traffic comunication) . Namun demikian bagi guru atau pengajar yang terlatih dan berpengalaman kendala komunikasi ini bisa diatasi dengan pengelolaan kelas yang aktif sehingga terbentuk suasana belajar aktif atau active learning.

Active learning
Inti kegiatan dari active learning adalah penciptaan suasana akademik pembelajaran yang aktive dengan pelibatan peserta belajar secara langsung dalam proses kegiatan belajar mengajar. Model pendekatan active learning mengusung paradigma bahwa belajar itu adalah kegaiatan bersama antara guru dan siswa. Keberhasilan pembelajaran sangat tergantung dari partisipasi aktive guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Jadi active learning ini menuntut kemampuan fleksibilitas dan kemampuan improvisasi dari guru untuk membangkitkan keterlibatan peserta didik secara aktive dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini bisa ditempuh oleh para pengajar dengan mengembangkan teknik-teknik presentasi yang baik.

Presentasi
Presentasi adalah proses tranmisi komunikasi dalam bentuk penyampaian suatu gagasan atau informasi-informasi tertentu di hadapan seseorang atau sejumlah orang (biasanya secara verbal), sehingga mewujud pengetahuan baru pada tujuan sasaran (target goal) nya.
Dalam prespektif psikologi sosial, kegaiatan presentasi bukan sekedar tranmisi komunikasi kepada public, tetapi merupakan kegiatan ekplorasi diri dan ekpose diri di hadapan sejumlah orang. Untuk mencapai tujuan presentasi maka seorang presenter harus melengkapi ketrampilannya dengan ketrampilan membangun rasa percaya diri sehingga dapat dicapai good performance dan excellence achivement.
Minimal ada tiga tujuan sasaran (target goal) dari presentasi yaitu, memberi informasi (to inform), memberi hiburan (to entertain) dan memberi pendidikan (to education). Dari tiga targel goal tersebut seorang presenter harus memberi penekanan pada salah satunya. Apakah presentasinya itu untuk memberi informasi, menghibur ataukah mendidik. Hal ini perlu ditetapkan terlebih dahulu, karena target goal akan sangat mempengaruhi style behavior/ gaya berperilaku ketika seseorang mepresentasikan dirinya.
Kegiatan presentasi adalah aktifitas yang sangat berkaitan dengan masalah interaksi sosial. Oleh karena itu dalam melakukan presentasi (baik sebagai pengajar, trainer, pemasar dll) , seorang presenter harus memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan persoalan persepsi sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sosial harus menjadi perhatian serius dan dipersiapkan dengan baik sebelum melakukan presntasi. Faktor yang mempengaruhi persepsi sosial tersebut adalah : 1) penampilan/ ciri-ciri fisik, 2). Ciri-ciri sosial demografic,3) komunikasi non verbal. Di samping masalah yang terkait dengan persepsi sosial tersebut seorang presenter harus melakukan beberapa persiapan agar presentasinya memberi hasil yang memuaskan.

Persiapan tersebut meliputi :
1. Persiapan yang bersifat internal (genuine local preparations ) meliputi antara lain : penguasaan materi yang hendak dipresentasikan, pemahaman terhadap audience yang menjadi target goal, pemahaman dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan atau melliu setempat, penyesuaian terhadap media komunikasi (spt penguasaan bahasa , simbol, lambang dll).
2. Persiapan ekternal, meliputi penataan dan manajemen diri (penampilan fisik yang sesuai dengan nuansa psiko-sosio-kultural dari public), cara berpakaian, pengenaan asesoris, pengembangan bahasa tubuh, penyesuaian terhadap status sosial ekonomi publik.
Dua bentuk persiapan tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Implikasi dari atas persiapan presentasi tersebut akan mensuport diri (self supported) terhadap tumbuhnya rasa percaya diri. Dengan rasa percaya diri yang baik maka bisa jadi materi yang tidak terlalu luar biasa akan menjadi luar biasa karena teknik penyampaian yang mengesankan. Sebaliknya materi yang sebenarnya sangat luar biasa bisa menjadi biasa-biasa saja karena presentasinya tidak meyakinkan public. Oleh karena itu saya berani mengatakan percaya diri merupakan the main gun atau the main sword untuk memenangkan sebuah pergolakan jiwa karena tuntutan dan desakan untuk menjadi yang terbaik dan memuaskan orang banyak. Salah satu yang perlu balutan rasa percaya diri adaah kegiatan yang namanya “PRESENTASI” .
Presentasi bukan sekedar bisa ngomong, pandai bicara dan mahir ber cas-cis cus. Sebuah presntasi dikatakan “the fully achivement” bila presenter mampu memahmkan, menjelaskan, menghibur dan mendidik public sehingga terjadi perubahan perilaku pada indek perilaku yang lebih baik. Seorang guru yang berhasil adalah guru yang bisa merubah perilaku muridnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham dan dari tidak mengerti menjadi sangat mengerti. Keberhasilan proses pengajaran (presentasi) guru bukan dilihat dari perolehan nilai raport semata, tetapi dari perilaku faktual yang ditunjukkan siswa siswinya.
Selamat melakukan pelatihan semoga catatan pokok-pokok presentasi pembelajaran model active learning ini bermanfaat.

Rabu, 12 Mei 2010

PARADIGMA BARU HUBUNGAN GURU DAN MURID


Soleh Amini Yahman

Jumat legi tanggal 25 Nopember 2005, kota Solo mendapat kehormatan untuk dijadikan pusat penyelenggaraan peringatan hari ulang tahun ke 60 persatuan guru republik Indonesia atau PGRI. Pemilihan kota Solo tersebut sangat tepat karena 60 tahun yang lalu PGRI digagas dan bangun di kota Solo. Tulisan ini tidak akan mengulas tentang nasip guru, citra guru atau profesi guru. Sebagai sumbang sih terhadap kecintaan penulis terhadap para guru, tulisan ini mencoba mendiskusikan konsep dan paradigma baru tentang hubungan guru dan murid dalam sudut pandang ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial.

Dalam perspeketif ilmu psikologi proses pembelajaran (belajar-mengajar) yang berlangsung antara guru dan murid, bukanlah sekedar merupakan proses tranfer pengetahuan (tranfer of knowladge) saja. Psikologi memandang proses pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas maupun yang berlangsung di luar ruang kelas adalah merupakan proses sosio-intelektual yang melibatkan hampir seluruh ranah (domain) kejiwaan, yaitu ranah kognitif, afektif, konatif dan aspek-aspek psikomotor. Untuk itu dalam proses pembelajaran tersebut seorang guru dituntut untuk tidak hanya mengedepankan salah satu domain saja.
Dari sini dapat diambil suatu pemahaman bahwa tugas seorang guru bukan hanya mentranfer ilmu, tetapi juga melaksanakan tugas dan fungsi sosiokultural. Artinya seorang guru hendaklah tidak semata-mata hanya bertindak sebagai guru (dengan huruf G) atau resi yang “menurunkan” ilmu kepada sang murid, tetapi juga harus dapat menempatkan diri sebagai kawan / atau teman, yang kadang-kadang harus pula ‘belajar’ dari muridnya. Sehingga dalam pelaksanaan tugasnya seorang guru hendaklah lebih dapat menempatkan diri sebagai seorang fasilitator yang bertugas atau berfungsi untuk menjembatani proses alih pengetahuan dari seorang guru kepada murid. Dengan keadaan yang demikian ini maka dalam proses pembelajaran tersebut akan terbentuk suatu suasana belajar yang dialogis, karena dalam diri siswa telah tumbuh trust atau kepercayaan bathin kepada gurunya, bahwa mereka (para gurunya) adalah orang-orang terpercaya yang akan memberikan perlindungan dan menjamin masa depannya. Sehingga murid atau siswa tidak merasa dibebani oleh target-target akademik tertentu. Dengan adanya trust dari murid kepada gurunya dan dari guru terhadap siswanya ini maka proses pembelajaran akan terasa nyaman dan tidak menegangkan. Murid akan terangsang untuk berani mengemukakan pendapatnya atau bahkan berani mengkritisi apa yang disampaikan gurunya. Dengan demikian konsep belajar CBSA akan dapat berjalan lancar karena interaksi sosial guru-murid berlangsung dengan sangat personal. Hubungan yang bersifat patron-klien antara guru-murid terkikis oleh nuansa hubungan sosial yang berimbang .
Pelaksanaan konsep ini menuntut kebesaran jiwa seorang guru, karena dalam kultur Indonesia (lebih-lebih di jawa) seorang guru selalu diposisikan atau memposisikan diri sebagai sosok yang tidak boleh dibantah, tidak boleh dikritik dan harus ditempatkan setingkat atau dua tingkat di atas kedudukan seorang murid. Dalam kultur jawa murid adalah merupakan sub ordinasi dari guru dan guru merupakan superordinasi. Idiom bahwa guru adalah sosok yang selalu harus digugu dan ditiru seakan mutlak ! Oleh karena itu tanpa kebesaran jiwa sang guru, konsep kesetaraan ,kesejajaran dan kemitraan dalam hubungan guru-murid yang penulis tawarkan ini niscaya akan bisa terlaksana.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Untuk memperlancar proses belajar-mengajar, para guru selain harus menciptakan suasana kemitraan, kesejajaran dan kesetaraan hubungan guru dan murid , guru harus memperhatikan beberapa faktor, baik yang terdapat di dalam diri siswa maupun faktor lingkungan yang ada di luar diri siswa. Pertama Kemampuan Siswa. para guru dan tenaga kependidikan lainnya harus menyadari, bahwa setiap individu mempunyai kemampuan belajar yang berbeda-beda. Hal ini perlu diperhatikan oleh guru karena hasil-hasil penelitian menujukkan adanya hubungan yang positip antara kemampuan siswa dengan hasil belajarnya (Lavin, 1965; Naylor, 1972 ; Goldstain, 1974; Fotheringtham & Carel 1980; Husen, 1975). Dalam interaksi intelektuanya, seorang guru harus bisa mengarahkan proses pembelajaran siswa pada kemampuan awal siswa. Yang dimaksud kemampuan awal adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh siswa sebelum ia mengikuti pengajaran yang akan diberikan (Dick & Carey, 1990 ; Worell & Stilwell, 1981). Kemampuan awal ini menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal ini penting untuk diketahui guru sebelum memulai program pengajarannya, dengan demikian dapat diketahui apakah siswa telah mempunyai ketrampilan atau pengetahuan yang merupakan pra-syarat (prerequisite) untuk mengikuti pelajaran. Tanpa adanya kemampuan prasyarat ini siswa tidak dapat diharapkan mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Kedua Motivasi, yaitu tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah tujuan tertentu (Morgan, 1986). Ada tidaknya motivasi pada siswa dapat disimpulkan dari observasi tingkah laku. Apabila siswa mempunyai motivasi yang positip maka ia akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian dan ingin ikut serta, bekerja keras serta bersedia menyelesaikan tugas hingga tuntas. Berdasarkan sumbernya motivasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang datangnya dari dalam diri siswa yang bersangkutan dan motivasi ektrinsik yaitu dorongan yang datangnya/ sumbernya dari luar diri siswa. Untuk proses belajar mengajar, motivasi intrinsik lebih menguntungkan karena biasanya bertahan lebih lama. Motivasi ektrinsik dapat diberikan oleh guru dengan cara mengatur kondisi dan situasi belajar yang kondusif.
Faktor yang berasal dari luar Diri siswa
Pertama, faktor guru . Dalam proses belajar mengajar, guru akan menjadi focus perhatian siswa, Oleh karena itu dalam presentasi intektualnya seorang guru harus memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah persepsi sosial, yaitu penampilan fisik, ciri-ciri sosial demografis dan penggunaan komunikasi non verbal.
Kedua, kondisi Lingkungan tempat belajar. Tempat belajar yang bersih, rapi dan tenang akan menciptakn rasa senang dan tentram untuk proses belajar mengajar, sebaliknya tempat belajar yang berisik (noise), kotor dan sesak (density) akan menyebabkan kejenuhan (uncomfortable) dan membunuh motivasi siswa untuk belajar. Tempat belajar yang menyenangkan tidak perlu mewah, yang penting bisa membuat siswa betah dan nyaman. Ketiga interaksi sosial siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Hubungan sosial dalam lingkungan belajar yang kooperatif akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Sebaliknya hubungan sosial yang rigit/kaku dan formal akan cenderung membuat siswa sebagai peserta didik menjadi apatis, dalam arti siswa malas untuk mengembangkan perilaku-perilaku akdemis, seperti berkompetisi secara fair, serta cenderung berlaku individualis. Keempat Fasilitas pembelajaran. Ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran akan sangat mempengaruhi minat siswa untuk giat belajar. Sekolah yang memiliki kelengkapan fasilitas belajar dan fasilitas sosial yang memadai akan mendorong siswa untuk suka belajar. Kelima Materi pelajaran. Tidak semua siwa suka dengan mata pelajaran tertentu, oleh karena itu guru dituntut kejeliannya menangkap fenomena ini. Siswa yang menyukai pelajaran tertentu maka ia akan terdorong untuk belajar dengan giat dan sungguh-sungguh, demikian pula sebaliknya ketidaksukaan terhadap mata pelajaran tertentu membuat siswa enggan mengikuti pelajaran tersebut. Oleh karena itu guru dituntut bagaimana mengorganisir semua pelajaran dengan baik dan bisa disukai oleh semua siswa-siswinya. Keenam Metode pengajaran. Metode dialogis dalam proses pengajaran akan lebih disukai siswa dari pada model pengajaran yang bersifat satu arah. Maksud pengajaran dialogis adalah melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa tidak hanya dijadikan obyek pengajaran. Setiap subyek yang diajarkan perlu dibuat semanarik mungkin. Misalnya dengan memakai alat peraga, memberi diskripsi dengan contoh atau ilustrasi-ilustrasi tertentu. Setiap proses belajar harus dibuat aktif, yaitu dengan mengajak siswa menemukan atau membuktikan sesuatu dan sedapat mungkin hal itu berguna dan memberikan efek bangga pada siswa.
Penutup
keberhasilan siswa dalam proses belajarnya bukanlah terletak pada diri siswa semata, tetapi juga pada guru sebagai fasilitator akademik dan institusi sekolah sebagai penyelengara pendidikan. Oleh karena itu dalam mengantarkan siswa menuju prestasi puncak hendaklah tiga kompenan ini membangun suatu sinergi yang kuat, dalam arti ketiganya menempatkan posisi sosial dan kultural pada suatu tataran perilaku yang egalitarian. Dengan sikap egalitarian dari sekolah, guru dan siswa ini maka akan tercipta keseimbangan sosial dan kultural akademis di lingkungan pendidikan sehingga sekolahan sebagai lingkungan pendidikan tidak menjadi tempat yang membosankan bagi aktivitas siswa. Untuk itu hendaklah dipahami dan disadari oleh kita semua bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa, mulai faktor yang melekat pada diri siswa itu sendiri, faktor pada diri guru dan faktor yang melakat pada institusi sekolah. Semoga catatan kecil ini berguna dan bermanfaat bagi para guru, terutama pada saat PGRI memperingati ulang tahunnya. Selamat ulang Tahun. Hormat dan cinta kami untuk para guru.