Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Tampilkan postingan dengan label pengembangan kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengembangan kepribadian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

KEMBANGKAN DIRI ANDA SELUAS DUNIA




PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
  Drs.Soleh Amini Yahman.Psi. MSi*

Kenalilah diri anda untuk dapat mengenal orang lain. Kenalilah orang lain untuk mengembangkan diri Anda

Minggu, 30 Mei 2010

AKTUALISASI PERCAYA DIRI Menuju Kepribadian Yang Menyenangkan dan Berprestasi


Drs. Soleh Amini Yahman. M.Si*

Pendahuluan

Krisis percaya diri (PD) dan syndroma rendah diri (inferiority complex syndrome) tidak saja menghinggapi kehidupan pesonal remaja. Hampir semua lapisan usia mengalami kedua macam krisis tersebut dalam taraf dan kadar yang berbeda-beda. Krisis percaya diri dan komplek rendah diri terjadi karena berbagai sebab dan faktor. Namun kalau dilihat dari etiologi kejadiannya, kedua masalah tersebut terjadi karena faktor eksogen dan faktor indogen, yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu (orang lain) dan faktor yang berasal/bersumber dari diri individu itu sendiri.


Krisis percaya diri adalah kondisi yang tidak produktif bagi peningkatan kualitas diri dan pencapian prestasi optimal. Perasaan rendah diri/kurang percaya diri akan menghambat interaksi sosial sehingga memperkecil kesempatan dan peluang untuk meraih kehidupan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu krisis ini harus segera di atasi dan dikelola sedemikian rupa sehingga hal-hal yang sifatnya kontra produktif pada perilaku personal maupun perilaku sosial pada diri kita dapat diubah menjadi produktif dan prestatif. Untuk itu saya sebagai akademisi dan praktisi yang bergerak di bidang personal development dan human resources empowerment menyambut baik gagasan yang dilontarkan oleh teman-teman di CES Solo untuk menyelenggarakan acara “liburan kreatif” ini. Tulisan berikut ini merupakan uraian singkat bagaimana membangun dan meningkatkan rasa percaya diri guna membangun kualitas pribadi yang optimal dan penuh prestasi. Semoga bermanfaat.




Percaya Diri : Apa itu ?
Percaya diri atau kepercayaan diri bukan sekedar keberanian untuk bertindak atau berbuat. Sehingga tidak dapat diartikan bahwa orang yang berani bertindak atau berbuat sesuatu dapat dikatakan sebagai orang yang penuh percaya diri. Kepercayaan diri lebih tepat disebut sebagai keyakinan diri. Dengan keyakinan diri ini kita dapat menangani atau menghadapi segala situasi dengan tenang.
Kepercayaan diri banyak kaitannya dengan hubungan kita dengan orang lain. Kita tidak suka merasa minder/inferior dihadapan siapapun . Kita tidak mau dipermainkan oleh siapapun. Kita ingin jadi pemuda yang dapat menyapa dan menghampiri gadis mana saja dan memintanya untuk berkenalan, berteman dan berkencan, atau ingin menjadi seorang pemudi yang dapat mengenakan apa saja yang ia inginkan dan tetap merasa enak karena ia tahu peniliannya tepat. Kita ingin dapat memasuki ruangan yang penuh dengan orang dan tetap merasa bahwa kita sama baiknya dengan mereka semua. Ketika pergi bekerja, kita ingin mengerahkan segenap kemampuan kita dan tidak terhambat oleh perasaan inferior apapun . Bila ke pesta atau acara sosial, kita ingin merasa senang tanpa ada perasaan rikuh . Kita menginginkan penentraman diri dan keyakinan diri. Kita ingin merasa percaya diri…dan itulah percaya diri !
Percaya diri atau kepercayaan diri adalah suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya merasa aman, dapat mengembangkan kesadaran diri, mempunyai kemandirian, mengetahui apa yang dibutuhkan , mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, berpikir positip sehingga mampu menghadapi segala sesuatu dengan tenang, mampu mencapai segala sesuatu yang diinginkan serta tidak merasa inferior dan canggung dihadapan siapapun. Dengan demikian kepercayaan diri merupakan sifat kepribadian yang sangat menentukan dalam kehidupan orang secara pribadi. Dengan kepercayaan diri yang baik, seseorang akan dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya dengan optimal.

Apakah Anda Termasuk Orang yang Percaya Diri ?
Hanya anda sendirilah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Rasa percaya diri yang kuat menyebabkan orang menjadi optimis dalam hidupnya dan menghadapi persoalan dengan hati yang tenang. Individu yang mempunyai kepercayaan diri senantiasa berpikir postip dalam menghadapi suatu situasi dan masalah. Seorang yang mempunyai kepercayaan diri positif ditunjukkan dengan kemampuan bekerja secara efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas dengan baik dan bertanggung jawab. Namun demikian Keprcayaan diri yang berlebihan tidak selalu berarti positip. Orang yang over confidance sering tidak berhati-hati dan berperilaku seenaknya (cuek bebek). Tingkah laku yang demikian ini sering menyebabkan timbulnya konflik dengan orang lain, over confidance sering memberikan kesan kejam, nyebelin, sok banget dan lebih banyak mempunyai lawan daripada kawan. Berikut ini adalah merupakan identifikasi dari ciri-ciri orang yang mempunyai kepercayaan diri postip :
1. Positip dalam menilai dirinya sendiri, Individu mempunyai keyakinan akan kemampuan diri. Ia mengerti benar apa yang akan dan harus dilakukan ketika menghadapi suatu situasi atau permasalahan.
2. Optimis ; selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang dirinya, harapannya dan kemampuannya.
3. Obyektif ; orang yang percaya diri akan selalu memandang persoalan dalam kerangka yang sebenarnya atau yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadinya (tidak ngeyelan/ngotot gitu )
4. Bertanggung jawab ; bersedia menerima segala resiko dan konsekwensi atas apa yang telah dilakukannya/diperbuatnya.
5. Rasional dan realistis ; seorang yang PD akan senantiasa bersifat kritis analisis terhadap suatu hal. Masalah atau problem yang dihadapi selalu diselesaikan dengan menggunakan pemikiran-pemikiran yang obyektip rasional dan dapat diterima oleh akal (jauh dari nada emosi dan grusa-grusu.)



Apakah Anda Termasuk Kurang Percaya Diri ?
Seorang yang yang rasa percaya dirinya kurang menjadikannya bergantung pada orang lain, ragu-ragu, cemas dalam melakukan suatu keputusan. Orang yang kurang PD dapat didentifikasi dengan ciri-ciri sebagai berikut ;
1. selalu merasa tidak aman, ada rasa takut yang tidak rasional dan merasa tidak bebas.
2. Ragu-ragu, lidah terasa terkunci di hadapan orang banyak, murung, pemalu,kurang berani.
3. Membuang-buang waktu dalam mengambil keputusan , tidak cekat-ceket.
4. Rendah diri, pengecut
5. Kurang cerdas dan cenderung untuk menyalahkan suasana luar sebagai penyebab masalah yang dihadapinya.
Apa Saja Yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri Itu ?
Seperti sudah disebutkan di muka tadi, kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor eksogen dan indogen. Nah uraian berikut ini adalah penjabaran dari dua faktor tersebut .
1. Konsep Diri (Self Concept): Terbentuknya kepercayaan diri, diawali dengan perkembangan konsep diri yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Konsep diri adalah semua yang dipikirkan dan dirasakan seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri merupakan keeluruhan dari kepercayaan dan sikap tentang dirinya. Konsep diri merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian yang postip atau negatip. Di dalam konsep diri terdapat evaluasi yang didasarkan pada penilaian orang lain atas seluruh kualitas dirinya (seperti :potensi, daya tarik fisik, nilai0nilai dan sebagainya) Konsep diri yang positip akan membawa seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, penerimaan diri dan evaluasi diri yang postip pula sehingga timbul rasa percaya diri yang positip. Individu dengan konsep diri positip akan mempunyai sikap percaya dan yakin akan eksistensi dirinya, mampu menghadapi permasalahan tanpa rasa malu yang berlebihan, mau menyadari perasaan dan keinginan orang lain, sehingga ia peka terhadap kebutuhan orang lain dan menjadi orang yang berkepribadian matang. Sedangkan konsep diri yang negatip akan membawa pada evaluasi diri yang negatif, sehingga menimbulkan rasa benci terhadap diri sendiri, onferior (kurang PD), kurang self aceptance (nerima dirinya sendiri) dan merasa kurang berharga.
2. Kondisi Fisik. Kondisi fisik merupakan penyebab utama rendahnya kepercayaan diri. Proses pembentukan kepercayaan diri mempunyai kaitan erat dengan pengenalan diri secara fisik. Konsep ini diawali dengan bagaimana individu mengenali dirinya, yang kemudian akan membawa individu untuk menilai fisiknya, apakah menerima atau menolaknya. Keadaan tersebut akan menyebabkan petrasaan puas dan tidak puas serta kecewa sehingga mempengaruhi perkembangan mentalnya.
3. Pengalaman Hidup. Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak akan menyebabkan anak kurang percaya diri dimasa remaja dan dewasa. Kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman hidup. Pengalaman yang mengecewakan adalah yang paling sering menjadi sumber timbulnya kekurang percayaan diri dan rasa rendah diri. Lebih-lebih jika pada dasarnya seseorang sudah memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan kurang penghargaan.
4. Kesuksesan dan kegagalan. Keprcayaan diri akan timbul apabila permasalahan dapat diatasi dengan baik. Seseorang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya cenderung merasa kurang percaya diri sehingga timbul perasaan tidak mampu pada dirinya. Sedangkan seseorang yang selalu berhasil atau sukses dalam hidupnya akan menampakkan kepercayaan diri yang tinggi oleh karena metreka merasa dirinya mampu.
5. Pendidikan. Pendidikan mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Orang yang tingkat pendidikannya rendah akan menyebabkan dirinya tergantung dan berada di bawah kekuasaan orang yang lebih pandai dari dirinya. Sebaliknya orang yang berpendidikan timggi cenderung akan mandiridan tidak perlu tergantung pada orang lain dan individu akan mempunyai kepercayaan diri dalam mengatasi tantangan dan tuntutan hidup.
6. Kareier dan Bekerja. Dengan berkarier dan bekerja seseorang bisa mengembangkan kreativitas dan kemandirian serta kepercayaan diri. Kepercayaan diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan atau berkarya. Di samping memperoleh penghasilan (materi) dengan bekerja seseorang memperoleh kepuasan dan rasa bangga karena dapat mengembangkan kemampuan diri (beraktualisasi diri). Sebaliknya apabila tidak bekerja dan mengalami hambatan dalam memperoleh pekerjaan, seseorang akan menjadi gelisah dan mungkin menjadi mudah marah, sehingga mengganggu kepercayaan diri.
7. Keluarga dan lingkungan keluarga. Keluarga memberikan kontribusi yang cukup dominan dalam membangun rasa percaya diri seseorang. Lingkungan keluarga yang selalau bahu-membahu, suprot-mensuport antar angota keluaraga akan melahirkan generasi yang percaya diri dan penuh prestasi. Tetapi lingkungan keluarga yang saling cuek bebek satu dengan lain, bahkan penuh konflik akan melahirkan generasi yang dablek dan jauh dari pesona kepribadian yang menyenangkan. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial pertama tempat individu melakukan interaksi dengan lingkungan. Pada tahun-tahun pertama perkembangan anak, kebutuhan psikologis diperoleh anak dari orang tuanya. Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan psikologis tersebut akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan rasa percaya diri anak.
Bagaimana Membangun Percaya Diri ?
Sebetulnya dengan menyimak, ciri-ciri dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepercayaan diri, sebagaimana telah saya uraiakan di muka tadi, tidak perlu lagi saya jabarkan bagaimana strategi atau kiat membangun rasa Percaya Diri. Dari hal-hal tersebut anda secara teknis dapat melakukannya sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi diri anda. Satu hal yang perlu anda ingat bahwa Kepercayaan diri itu dap[at dibangun. Artinya kepercayaan diri dapat di tingkatkan. Kita semua dapat belajar untuk lebih percaya diri atau dapat memperoleh kepercayaan diri, selama kita mau menerima realita diri kita dan menyadri siapa kita dan dimana kita berada. Tidak ada orang yang sempurna rasa percaya dirinya. Kepercayaan diri itu sifatnya situasional dan kondisional. Artinya orang bisa sangat PD pada situasi, tempat dan kondisi tertentu, tetapi ia akan menjadi sangat nervous dan tidak PD pada situasi , tempat dan kondisi lainnya. Oleh karena itu sebelum memutuskan sesuatu persoalan atau tindakan hendaklah kita mengenali dan menguasai lingkungan yang ada dihadapan kita. Dengan demikian ada proses adjusment (penyesuaian) dan keseimbangan dalam bertindak, berbuat dan mengambil keputusan. Itulah kiat paling jitu yang bisa saya kemukakan dihadapan anda semua dalam membangun rasa PD yang positip.

Rabu, 12 Mei 2010

SELF CONFIDANCE DEVELOPMENT


(Kiat Mengembangan Rasa Percaya Diri Dalam Presentasi)

Drs. Soleh Amini. PSi. MSi
Pendahuluan
Percaya diri merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang dalam menjalankan fungsi kehidupannya sebagai mahluk sosial. Terbentuknya rasa percaya diri atau self confidance selalu berkaitan dengan keadaan dirinya sendiri dan keberadaan orang lain di sekitarnya . Oleh karena itu untuk membangun atau mengembangkan rasa percaya diri, seseorang harus mampu melakukan pengenalan yang baik (adaptif) terhadap dirinya sendiri dan juga terhadap orang-orang atau lingkungan yang ada disekitarnya. Pengenalan terhadap diri sendiri di antaranya meliputi pengenalan terhadap potensi dan kelemahan diri, pengenalan terhadap konsep diri, efikasi diri dan kesadaran diri. Sedangkan pengenalan terhadap lingkungan di antaranya meliputi kemampuan diri dalam mengapresiasi karya / potensi orang lain ( tidak menganggap remeh orang lain), waspada terhadap usaha-usaha/ strategi yang dikembangkan orang lain.



Presentasi = Ekplorasi & Ekpose Diri
Presentasi sebagai kegiatan ekplorasi diri atau self expose di hadapan sejumlah orang, sangat memerlukan adanya rasa percaya diri sehingga dapat dicapai good performance dan excelence echivement. Dalam melakukan ekpose diri, seorang presenter harus memperhatikan masalah yang berkaitan dengan persoalan perepsi sosial. Faktor –faktor yang mempengaruhi persepsi sosial harus menjadi perhatian serius dan dipersiapkan dengan baik sebelum melakukan ekpose diri dalam presentasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sosial tersebut adalah : 1) Penampilan/daya tarik fisik , 2) Ciri-ciri sosial demografic, 3). Komunikasi non-verbal
Bisa jadi., materi yang disampaikan dalam prentasi tidaklah terlalu luar biasa, tapi karena penampilan yang baik dan rasa percaya diri yang proporsional maka hasil yang diperoleh sungguh luar biasa. Oleh karena itu saya berani mengatakan percaya diri merupakan the main gun atau the main sword untuk memenangkan sebuah kompetesi dalam suatu pertandingan atau perlombaan. Sebagai contoh misalnya, persis solo sebagai club sepakbola yang masih sangat yunior, dalam lanjutan pertandingan di kompetisi devisi nasional 2006 mampu mengalahkan persebaya (club sepak bola sangat senior dan disegani dalam dunia persepakbolaan di Indonesia) adalah berkat tercapainya kondisi well perform karena adanya rasa percaya diri pada diri pemain persis. Percaya diri tersebut diperoleh karena mereka main di kandang sendiri, sehinga mendapat dukungan dan kawalan penuh dari lingkungan (pasopati). Hasil pertandingan mungkin akan menjadi lain kalau pertandingan tersebut dilakukan di kandang lawan.
Berangkat dari pemaparan tersebut di atas, maka saya sangat mendukung konsep yang dikembangkan oleh fakultas geografi UMS dalam mempersiapkan tim LKTM-nya dengan memberikan pelatihan-pelatihan intensif kepada anggota kontingen LKTM, guna menciptakan efek pembiasaan dan efek kebersiapan untuk menghadapi lawan di ajang kompetisi LKTM. Pembiasaan dan kebersiapan akan berimplikasi positip dalam munculnya rasa percaya diri. Kemenangan beruntun yang dicapai oleh fakultas Geografi UMS dalam ajang LKTM maupun PKM selama periode tahun 2000 – 2005 akan menjadi pupuk yang sangat bagus untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada fakultas geografi sebagai sebuah institusi dan juga rasa percaya diri pada segenap civitas akademikanya, sehingga fakultas geografi mampu berkembang menjadi lebih baik lagi bahkan menjadi yang terbaik. Semoga langkah yang baik ini dapat diikuti oleh pihak-pihak lain di Universitas Muhammadiyah Surakarta sehingga prestasi gemilang yang pernah di capai UMS dalam ajang lomba karya tulis mahasiswa (LKTM) pada era 2002 – 2005 dapat diraih kembali.
Percaya Diri : Apa itu ?
Percaya diri bukan sekedar keberanian untuk bertindak atau berbuat sesuatu.. Orang yang berani bertindak atau berbuat sesuatu tidak selalu dapat dikatakan sebagai orang yang penuh percaya diri. Percaya diri lebih tepat disebut sebagai keyakinan diri. . Keyakinan diri akan membawa seseorang kepada perilaku yang santun, tegas dan tepat (asertif). Dengan asertifitas ini orang menjadi merasa aman, dapat mengembangkan kesadaran diri, mempunyai kemandirian, mengetahui apa yang dibutuhkan, mampu berprilaku sesuai dengan yang diharapkan, berpikir positif. Dengan semua itu seseorang akan mampu menghadapi tugas, tantangan dengan tenang, tidak merasa inferior dan canggung di hadapan siapapun.. Dengan kepercayaan diri yang baik seseorang akan dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki dengan optimal.
Apakah Anda Orang yang Percaya Diri
Diri anda sendirilah yang dapat menjawab dengan tepat pertanyaan tersebut. Jika anda orang yang selalu optimis dalam menghadapi tugas, tantangan dan pekerjaan serta mampu melakukannya dengan perasaan aman, tidak takut gagal maka anda termasuk orang yang percaya diri. Seseorang yang mempunyai kepercayaan diri akan selalu bertindak dengan cara yang positip dalam menghadapi suatu situasi dan masalah. Hal itu ditunjukkan dengan kemampuan untuk bekerja secara efektif, melaksanakan tugas-tugas dengan baik dan bertanggung jawab. Namun demikian kepercayaan diri yang berlebihan tidak selalu berati positip. Orang yang over confidance sering berperilaku secara tidak hati-hati dan seenaknya sendiri (cuek bebek). Tingkah laku yang demikian ini sering menimbulkan konflik dengan orang lain, karena over confidance sering menimbulkan kesan sok, angkuh, menyepelekan/merendahkan dan tidak menghargai orang lain.
Andakah orang yang Orang percaya diri itu. Inilah gambaran diri anda :
• Positip dalam menilai diri sendiri : mempunyai keyakinan terhadap kemampuan diri. Aku bisa !
• Optimis : berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri atau persoalannya.
• Obyektif : memandang persoalan dalam kerangka yang sebenarnya, bukan menurut kebenaran pribadinya, so orangnya tidak bregudul, tidak ngeyelen, tidak ngotot dan tidak pakai ilmu pokok men.
• Responsible : berani menerima resiko dan konsekwensi atas perbuatan yang diperbuatnya.
• Rasional dan realitis ; berfikir kritis dan analitis terhadap sesuatu hal. Persoalan dihadapi dan diselesaikan dengan menggunakan pemikiran-pemikiran yang obyektif rasional dan logis, jauh dari emosi dan grusa-grusu.

Anda tidak Percaya diri : inilah gambarannya.
• Selalu merasa tidak aman : ada rasa takut yang tidak rasional, merasa tidak bebas untuk berperilaku tertentu (salah kostum, salah masuk , salah naik dsb)
• Ragu-ragu : Pemalu, lidah kayak terkunci, nggak berani, susah ngomong dsb
• Tidak cekatan, membuang buang waktu, maka hilang kesempatan
• Rendah diri
• Tidak smart, tidak cerdas tetapi bukan berarti goblok ! Banyak orang pinter tetapi tidak cerdas sehingga penampilannya kayak orang goblok !
• Cenderung menyalahkan situasi di luar dirinya sebagai penyebab timbulnya masalah atau kegagalan.

Apa saja yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri itu
• Konsep diri (self concept) : Terbentuknya kepercayaan diri diawali dengan perkembangan konsep diri. Konsep diri adalah semua yang dipikirkan dan dirasakan seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri yang positip akan membawa seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, penerimaan diri dan evaluasi diri yang positip juga sehingga timbul rasa percaya diri yang positip.
• Kondisi fisik. Kondisi fisik yang sehat dn baik menujang timbulnya percaya diri yang baik
• Pengalaman hidup : pengalaman positip dan menyenangkan akan mengantarkan orang pada situasi exited. Situasi exited ini merangsang jiwa untuk yakin bahwa dia akan sukses.
• Kesuksesan dan kegagalan
• Pendidikan , karier, status

Mari Membangun Rasa Percaya Diri = Caranya ?
Sebetulnya dengan menyimak atau memahami ciri-ciri dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepercayaan diri sebagaimana telah saya uraikan dimuka tadi, tidak perlu lagi saya jabarkan strategi atau kiat untuk membangun rasa percaya diri. Dari hal-hal tersebut secara teknis anda dapat melakukannya sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi diri anda. Satu hal yang perlu diingat bahwa kepercayaan diri itu bisa dibangun, bisa dikembangkan dan bisa dibentuk dalam kehidupan seseorang. Kita semua dapat belajar untuk lebih percaya diri atau dapat memperoleh kepercayaan diri, selama kita mau menerima realita diri kita dan menyadari siapa kita dan dimana kita berada. Tidak ada orang yang sempurna rasa percaya dirinya. Kepercayaan diri itu sifatnya situasional dan kondisional. Artinya orang bisa sangat percaya diri pada situasi, tempat dan kondisi tertentu, tetapi ia akan me jadi sangat nervous dan tidak percaya diri pada situasi, tempat dan kondisi lainnya. Oleh karena itu sebelum memutuskan suatu persoalan atau tindakan hendaklah kita kenali dan kuassai lingkungan yang kita hadapi. Dengan demikian ada proses ajdusmen (penyesuaian) dan keseimbangan bertindak, berbuat dan mengambil keputusan.
Dalam kaitannya dengan tugas presentasi yang menjadi fokus bahasan kita dalam makalah ini, percaya diri dapat dibangun dengan langkah-langkah sebagai berikut di bawah ini :
A. Persiapan Normatif
• Jangan mengurung Diri : ekplorasilah alammu dengan kreativitas sosial, intelektual dan kultural anda. Semakin banyak anda “bermain’ akan semakin luas jejaring kehidupan anda. Semakin banyak anda mengelana akan semakin banyak pengetahuan yang anda punya, maka semakin eksis nilai diri anda. So pasti anda akan menjadi orang yang matang dan fully confidances.
• Banyaklah Bertanya : orang yang banyak bertanya bukan berarti bodo, tapi ingin pintar. Kepinteran inilah yang akan membawa anda menjadi diri yang excelence.
• Jangan Malu : jangan malu untuk berbuat hal yang tidak memalukan. Malu yang berlebih akan menghambat anda untuk menjadi dinamis.
• Bersikap terbuka/membuka diri untuk menerima kritik/masukan.
B. Persiapan Terknis
• Memeperbanyak Latihan : timbulkan efek pembiasaan dan kebersiapan dengan memperbanyak latihan
• Minta feed Back setiap kali selesai melakukan tugas sebagai bahan untuk evaluasi
• Tatalah performance atau tampilan diri (fisical atrractivness) sebaik mungkin, diantaranya meliputi pakaian yang dikenakan, dandanan, asesoris yang dikenakan.
• Kuasai betul materi yang akan anda presentasikan
• Pakailah bahasa yang sesuai dengan situasi, ucapkan dengan pengucapan yang tegas dengan artikulasi yang jelas, jangan banyak memakai penyangga kata. Hindarkan kata pembuka yang mengesankan anda lemah walau maksud anda untuk merendah demi menjaga sopan santun.
• Jangan takut (ingah-ingih) ketika harus bertatapan mata /kontak mata dengan audience atau team juri. Jangan menunduk menanat lantai atau menengadah menatap langit-langit atap. Jangan memasukan tangan kesaku celana atau bersedekap ketika anda sedang berpresentasi.
• Jika anda presentasi dalam team, maka aturlah tugas dari masing-masing anggota team dengan urutan yang jelas. Jangan sampai antar anggota team seakan-akan berebut untuk berbicara.
• Tutuplah presentasi anda dengan suatu keyakinan bahwa “ hal inilah hal terbaik yang telah anda lakukan” .

Selasa, 11 Mei 2010

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN


Kenalilah diri anda untuk dapat mengenal orang lain. Kenalilah orang lain untuk mengembangkan diri Anda

I

Pribadi atau kepribadian adalah merupakan istilah yang sudah sangat populer dalam perbendaharaan kata (vocabulary) kita sehari-hari. Namun demikian kita masih juga sering salah dalam memberikan arti terhadap istilah kepribadian itu sendiri. Dalam kamus orang awam (non profesional), kepribadian sering diartikan hanya sekedar sebagai ciri khas yang melekat pada diri seseorang yang biasanya nampak /tampak atau muncul dalam perilaku sehari-hari. Dengan kata lain , kepribadian sering dimaknai sebagai ketrampilan sosial atau kecakapan sosial . Dari sini kepribadian individu dinilai berdasarkan kemampuan individu dalam memperoleh reaksi-reaksi positip dari berbagai orang dalam berbagai keadaan. Dalam pengertian yang demikian ini sekolah-sekolah atau kursus-kursus yang mengkususkan menyiapkan orang untuk memasuki dunia ‘glamuor’ mengartikan istilah kepribadian dengan pengertian tersebut ketika menawarkan kursus-kursus “latihan/pengembangan kepribadian” . Pemaknaan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, karena perilaku dan kecakapan sosial manusia memang merupakan salah satu cerminan atau manifestasi dari kondisi kepribadian seseorang. Namun demikian kita tidak bisa melakukan assesment kepribadian hanya dari perilaku yang tampak saja.



Dalam arti yang lebih luas, kepribadian diartikan sebagai sutau totalitas psikofisik dan sosial . Artinya kepribadian atau personality adalah merupakan suatu totalitas dari suatu sistem psikofisis dan sosial yang terdiri atas persenyawaan unsur kognitif, unsur afektif dan unsur konatif yang terkombinasikan dengan unsur sosial budaya sebagai unsur yang berada di luar diri manusia. Dari persenyawaan itulah terbentuk suatu pola kepribadian (personality patern) yang sifatnya sangat relatif dan personal. Ketiga unsur tersebut secara bersama-sama membentuk kepribadian seseorang. Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri secara ekslusif dalam membentuk kepribadian manusia , tetapi dari ketiga unsur tadi ada yang lebih dominan dibanding unsur lainnya dalam persenyawaannya . Dominansi salah satu unsur inilah yang akan memberi ciri khas (atribut) pada perilaku seseorang sehingga seseorang disebut berkepribadian begini atau berkepribadian begitu.
Pribadi atau kepribadian yang melekat pada seseorang bukanlah merupakan produk jadi yang telah dibawa seseorang sejak lahir. Kepribadian ada dan tumbuh berkembang pada diri seseorang adalah melalui proses belajar sosial , terutama belajar melalui proses belajar imitasi (social learning & imitation). Oleh karena itu kepribadian seseorang itu dapat dibentuk dengan intervensi-intervensi tertentu, baik intervensi internal maupun intervensi ekternal melaluii proses belajar (learning process). Artinya kepribadian itu sifatnya tidak menetap seumur hidup, kepribadian seseorang bisa berubah sejalan dengan berubahnya usia dan pengalaman yang diperolehnya. Semakin dewasa usia seseorang biasanya kepribadiannya juga akan semakin mature atau matang . Perlu dicatat sekali lagi bahwa kepribadian seseorang itu bukan merupakan suatu bakat yang sifatnya bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah lagi. Kepribadian akan berkembang dan dibentuk karena adanya sentuhan dari lingkungan, pengalaman dan motivasi serta budaya (adat, norma, hukum dan sebagainya).
Dalam setiap diri individu pasti tersimpan potensi positip maupun potensi negative. Kedua potensi tersebut mempunyai peluang yang sama besar dalam memepengaruhi pembentukan dan pengembangan kepribadian seseorang. Bila individu berada dalam lingkungan yang positif dan banyak memperoleh pengalaman positip maka sudah tentu pribadi yang positip yang akan berkembang dalam dirinya. Mengapa ? Sebab lingkungan dan pengalaman sangat dominan mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian.

II
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
Secara garis besar , faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian dalam diri seseorang dibedakan dalam dua kategori faktor, yaitu faktor-faktor yang sifatnya internal dan faktor-faktor yang sifatnya ekternal.
1. Faktor Internal : Adalah segala sesuatu yang berasal atau bersumber dari diri individu sendiri yang mempengaruhi proses persenyawaan unsur-unsur psikofisik sehingga terbentuk pola kepribadian tertentu. Faktor-faktor internal tersebut antara lain :
• Gen atau keturunan
• Self Perception (persepsi diri) yaitu bagaimana seseorang mempersepsikan , menilai diri dan potensi yang ada pada dirinya sehingga dengan penilaian dan persepsinya tersebut individu akan mudah mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
• Self control atau kontrol diri (kontrol emosi, kontrol perasaan, kontrol perilaku dan lain-lain)
• Self concept (konsep diri) yaitu bagaimana seseorag memandang dan menempatkan dirinya sendiri didalam suatu situasi yang ada di sekelilingnya.
• Self efikasi atau efikasi diri, yaitu seberapa jauh seseorang merasa yakin bahwa dirinya mampu dan bisa mengerjakan sesuatu yang menantang.
2. Faktor Ekternal : adalah faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengembangan kepribadian yang berasal dari luar diri indvidu itu sendiri. Diantara faktor-faktor ekternal tersebut antara lain :
• Faktor Pendidikan (formal maupun non formal)
• Lingkungan sosial, yaitu lingkungan tempat terjadinya interaksi sosial. lingkungan keluarga, peer group/kelompok sebaya, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan sebagainya.
• Faktor ekonomi
• Faktor demografi dan geografi
• Faktor sosial , Budaya dan religiusitas
• Faktor idiologi / politik
Seberapa besarkah masing-masing faktor di atas memberikan kontribusi terhadap proses perkembangan kepribadian ? Secara pasti tidak atau belum diketahui prosentase kwalitatif nilai kontribusi faktor ekternal dan internal terhadap perkembangan kepribadian. Namun yang pasti antara faktor-faktor ekternal dan internal tersebut saling mempengaruhi dan bersama-sama menentukan perkembangan kepribadian seseorang.
Tipe-Tipe Kepribadian
Secara teorits kita banyak mengenal berbagai macam type kepribadian yang biasa disebut dengan istilah “tipologi kepribadian”. Untuk keperluan kegiatan ini tampaknya tidak terlalu penting bagi kita untuk membedah soal-soal tentang berbagai tipologi kepribadian tersebut. Dalam kesempatan ini hanya akan kita bahas dua tipe kepribadian yang sudah sangat populer bagi kalangan masyarakat awam yang sering berbincang tentang “kepribadian”, yaitu tipe keribadian “terbuka” atau ektraversi dan kepribadian yang “tertutup” atau introversi.
• Kepribadian terbuka (Ektraversi) : kepribadian ektrovert dicirikan dengan perilaku dan kecakapan sosial berikut ini :
• Mudah bergaul dan mendapatkan teman baru
• Mudah menyesuaikan diri (adaptif) dengan lingkungan baru
• Berpenampilan ceria
• Empatik dan simpatik
• Sentimentil dan penuh perasaan (afektif)
• Pemaaf
• Mempunyai need of affiliation tinggi (suka berkumpul)
• Tidak tahan terhadap kegiatan-kegiatan yang sifatnya rutin (mudah/cepat bosan)
• Kepribadian yang tertutup (introversi) : Kepribadian introvert dicirikan dengan perilaku dan kecakapan sosial berikut ini :
• Cenderung pendiam
• Kurang suka pada keramaian dan suasana hura-hura
• Kurang suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja sama
• Penampilannya bisa-biasa saja (dalam arti tidak reaktif - responsif)
• Mempunyai tingkat toleransi emosi yang tinggi (tegar emosinya )
• Need of Affiliation-nya datar-datar saja (tetapi bukannya tidak ada)
• Relatif tahan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menuntut rutinitas
• dan ketelitian dan endurance (ketahanan) yang tinggi.
• Terus terang dan tanpa basa-basi.

Ditinjau dari bentuk hubungan relationship, tipe keribadian tadi dibedakan menjadi tiga bentuk :
1. Type kepribadian “ Compliant”. Karakteristik khas dari tipe kepribadian ini adalah adanya dorongan atau kebutuhan yang begitu kuat untuk senantiasa menyenangkan dan menyesuaiakan diri secara total pada keinginan orang lain. Sehingga tipe keribadian compliant ini dalam hubungannya dengan orang lain biasanya menampkakan gaya kerja pelayan*. Sistem nilai dan asumsi (SINA) yang dianut oleh tipe kepribadian ini adalah “berbuat baik pada orang lain pasti akan memperoleh kebaikan pula”.
2. Type kepribadian “Agresif”. Karakteristik khas pada sifat kepribadian ini adalah kebalikan dari tipe kepribadian compliant tadi. Strategi yang dipergunakan dalam berhubungan dengan orang lain ditandai adanya sikap menentang orang lain. Lingkungan atau orang-orang yang ada di luar dirinya, oleh orang yang bertipe keribadian ini dipersepsikan/dinilai sebagai penuh bahaya, mengancam dirinya. Oleh karena itu hanya dengan cara menentang setiap oranglah maka sikap dan perilaku orang lain yang dianggap membahayakan tersebut dapat ditiadakan atau dikurangi.
3. Type kepribadian “Menghindar”. Karakteristik khas yang melekat pada tipe kepribadian ini adalah perilaku mengambil jarak terhadap orang lain. Orang bertipe kepribadian ini cenderung hatai-hati dalam membangun relasi dengan orang lain, baik yang sudah dikenalinya apalagi yang belum dikenalnya.Orang dengan tipe kepribadian ini tidak akan membangun relationship dengan orang lain bila memang benar-benar sangat terpaksa atau dipaksa membutuhkan. Tipe kepribadian ini tidak ingin terlibat dengan orang lain karena orang lain dipersepsikan akan menyusahkan atau terlalu banyak menuntut , sehingga satu-satunya cara yang dapat dipilih ialah menghindarkan diri dari keterlibatan (emosional) dengan orang lain. Dalam hubungan dengan orang lain tipe kepribadian ini biasanya menggunakan gaya kerja* Seniman dengan Sina “saya tidak mengganggu orang lain dan orang lain jangan menggangu saya” .
Manusia bukanlah mesin, sehingga tipe-tipe kepribadian tersebut tidak secara permanen melekat pada diri manusia sebagaimana suatu sprepart melekat pada suatu mesin. Setiap orang pada saat-saat tertentu memilih salah satu strategi dalam berhubungan dengan orang lain. Masalah akan timbul bila strategi yang diambil atau harus diambil tidak sesuai dengan tipe kepribadiannya. Masalah yang timbul inilah yang kerap kali menimbulkan konflik interpersonal dan intrapersonal.

III
Bagaimana Mengetahui atau Melihat Tipe Kepribadian ?
Tidak bijaksana bila dalam melihat atau menentukan/menilai kepribadian seseorang hanya dari perilaku nampak yang diperlihatkan seseorang saja, lebih-lebih bila hasil penilaian kepribadian tersebut akan kita gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pengambilan keputusan yang penting. Misalnya untuk keperluan promosi jabatan, rotasi pekerjaan, seleksi pekerjaan dan sebagainya.
Penilaian kepribadian tidak bisa hanya kita dasarkan pada ‘extrinsic performance’ saja , sebab bisa jadi kita akan terjebak pada ‘hallo effect’ dan unsur ‘persona’ yang melekat pada diri orang yang kita nilai. Perlu kita ingat bahwa kepribadian adalah abstrak yang merupakan suatu sistem yang terdiri atas aspek kognitip, afektif dan konasi yang akhirnya menimbulkan perilaku (action behavior). Oleh karena itu personality tidak bisa kita nilai hanya dari action behavior-nya saja.
Ada beberapa pendekatan dalam melakukan assesment kepribadian yaitu: Pendekatan Psikodiagnostika ; pendekatan psikodiagnostika ini biasanya dilakukan oleh profesional dibidang psikologi dengan cara menggunakan instrumen-instrumen psikometri dan instrumen-instrumen psikodiagnostika lainya guna memperoleh gambaran kepribadian seseorang atau sekelompok orang.
1. Pendekatan orientasi tugas / Job Oriented Approach : yaitu upaya untuk mendapatkan gambaran kepribadian dalam kaitannya dengan suatu pelaksanaan tugas pekerjaan tertentu. Pendekatan orientasi tugas ini antara lain berupa role playing (bermain peran) On Job Training, Magang, praktek kerja dilingkungan pekerjaan.
2. Study biografi atau studi kesejarahan atas kehidupan seseorang. Dengan kegiatan ini observer akan menemukan konsep, prinsip, pandangan hidup, latar belakang, dari kehidupan seseorang dalam kaitannya dengan action performance-nya dimasa lalu dan di masa sekarang. Dengan demikian maka diharapakan observer dapat merekonstruksikan gambaran kepribadian dari seseorang yang sedang dinilai kepribadiannya. Data-data tentang biografi ini bisa dibaca dari curikulum vitea/ daftar riwayat hidup atau sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bagaimana Pribadi yang tercerahkan ?
Orang yang hidup dengan pribadi yang tercerahkan adalah orang yang sehat secara jasmani dan rohani, Kesemaptaan jasmani dan rohani yang sehat tadi ditandai dengan adanya kemampuan untuk memberdayakan (empowerment) semua potensi positip yang ada pada dirinya secara wajar. Secara spesifik, pribadi yang tercerahkan dicirikan dengan karakteristik sebagai berikut :
1. Produktif, dalam arti bisa bekerja secara wajar walau ia berada dalam situasi persaingan (tidak kemrungsung, ngoyo dan membabi buta).
2. Hidupnya tidak di buat-buat atau penuh dengan basa-basi.
3. Mampu tampil apa adanya dalam arti wajar dan sesuai dengan keadaan dirinya .
4. Mengetahui, menyadari dan mengenali potensi dirinya, dan ia bisa mengoptimalkan potensinya tersebut secara wajar tidak berlebih-lebihan
5. Tidak minder ketika berada pada lingkungan yang dianggap lebih unggul.
Ora kagetan, ora nggumunan dan ora /ojo dumeh.
Bagaimana Tipe Kepribadian Yang Baik ?
Akhirnya pertanyaan yang muncul atas uraian tentang tipe kepribadian tadi adalah , mana diantara tipe-tipe kepribadian sebagaimana disebutkan di atas tadi yang paling baik ?
Baik atau tidak baik dari sutau bentuk atau tipe kepribadian adalah bersifat relatif. Artinya untuk pekerjaan dan profesi tertentu memerlukan tipe kepribadian tertentu pula . Kita tidak bisa menempatkan bahwa tipe kepribadian Z lebih baik dari pada tipe kepribadian X misalnya. Tujuan penilaian tipe kepribadian adalah untuk mengembangkan kepribadian tertentu sehingga kepribadian dan potensi yang melekat di dalamnya bisa optimal. Dalam jangkuan yang lebih spesifik lagi, tujuan assesment kepribadian adalah untuk dapat menempatkan seseorang pada tempat yang paling sesuai dengan kepribadiannya. Dengan demikian diharapakan yang bersangkutan akan bisa lebih produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya.
Type kepribadian dikatakan baik bila ia dapat selaras dengan perilaku dan lingkungannya, sedangkan kepribadian dikatakan tidak baik bila ia menimbulkan ketidakseimbangan dari perilaku dan lingkungannya.
IV
Kepribadian dan Model Komunikasi Sosial
Dalam perspektif psikologi komunikasi, term komunikasi diartikan bukan hanya sekedar proses penyampaian pesan, tetapi merupakan “social exchange process”, yaitu proses pertukaran informasi-informasi social yang antara lain meliputi pertukaran informasi cultural, nilai (values), etika, etiket, keyakinan, kepercayaan, adat, tata susila dan lain-lain sebagainya. Karena kepribadian manusia terbentuk oleh perpaduan antara unsur internal dan ekternal, maka pola kepribadian seseorang akan berpengaruh pula terhadap model-model komunikasi sosialnya. Dengan kata lain corak kepribadian akan mempengaruhi mekanisme dan model komunikasi social yang dipergunakannya.
Dalam konsep ini maka keberhasilan komunikasi social seseorang selain dipengaruhi oleh dominansi corak kepribadiannya, juga dipengaruhi oleh kekuatan kepribadian tersebut dalam membangun self adaptation power (kemampuan beradaptasi diri dengan lingkungan) . Oleh karena itu guna mempertajam visi personalitas kepribadian seseorang perlu dilakukan proses pembelajaran komunikasi social dengan cara mengembangkan suatu model pembelajaran lingkungan sosio cultural yang tidak hanya melibatkan orang-orang terdekat (in group), tetapi juga perlu melibatkan orang-orang yang dianggap masih asing (out group) tetapi memiliki akses besar untuk dilibatkan dalam pembentukan komunitas social yang baru. Dengan cara yang demikian ini maka besar kemungkinan terbetuknya kepribadian yang mengakses pada terbetuknya pola komunikasi social yang adaptif dan konstruktif, sehingga proses penyampaian pesan akan berhasil, karena tidak terjadi benturan nilai social dan nilai kebudayaan.


Drs. Soleh Amini Yahman. M.Si
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Konsultan psikologi pada Biro konsultasi dan pemeriksaan psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani tromol Pos 1 pabelan Surakarta, telphone 0271 – 717417. 402. Personal contact. 08164271652