Bismillahirahmanirahim

Semoga Ilmu yang dibagi dan pengetahuan yang diajarkan dapat menambah dan mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Selasa, 11 Oktober 2011

Individu dan Kelompok (Ringkasan Kuliah)

Di dalam interaksi sosial akan menyebabkan munculnya suasana kebersamaan (togetherness) diantara individu-individu yang terlibat. Di dalam psikologi sosial kemudan muncul istilah situasi sosial , yaitu tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Menurut M Sherif, situasi sosial dapat di bagi ke dalam dua golongan :


1. Situasi Kebersamaan (togetherness situation)
Situasi dimana sejumlah orang berkumpul pada lokasi dan waktu tertentu. Diantara orang orang tersebut mungkin tidak saling kenal karena merupakan sutau kebetulan. Faktor-faktor yang penting dalam situasi kebersamaan ini adalah bukan interaksi sosial yang mendalam tetapi adanya sejumlah orang, karena kepentingan bersama, dan berkumpul di suatu tempat. Misalnya orang yang berkumpul pada sebuah warung.
2. Situasi Kelompok Sosial (Group Situation)
Di dalam situasi kelompok selain individu-individu tersebut melakukan interaksi, mereka juga saling mengenal. Hubungan yang terjadi selain hubungan pribadi juga terjadi hubungan struktural dan hierarkis. Ada pembagian tugas diantara anggotanya, ada aturan-aturan atau norma yang berlaku.
Situasi kebersamaan sangat mungkin berubah menjadi situasi kelompok. Jika tidak terkendali situasi kebersamaan juga bisa berubah menjadi massa (colective behavior), yang sangat mungkin juga berubah menjadi crowd (social movement). Ciri-ciri crowd adalah suatu masa yang kacau dan bersifat agresif.
Timbulnya massa biasanya disebabkan : kurangnya kebutuhan pokok, ancaman dari luar, ada kejadian yang menarik.
Kelompok Sosial
Secara umum diartikan sebagai kumpulan individu yang sering mengadakan interkasi (face to face), selain terdapat hubungan pribadi juga terdapat hubungan struktural dan hirarkis (hubungan antara yang memimpin dengan yang dipimpin).
Sifat-sifat kelompok :
1. Saling tergantung diantara para anggota kelompok sehingga membentuk pola ertentu yang mengikat mereka
2. Tiap orang / anggota mengakui dan mentaati nilai-nilai, norma-norma serta pedoman tingkah laku di dalam kelompok itu.
Pada setiap kelompok akan selalu muncul norma-norma yang digunakan dakan kelompok tersebut. Norma secara umum merupakan ukuran-ukuran atau peratura-peraturan bagi perbuatan manusia. Menurut Sherif & Sherif norma adalah pengertian yang seragam antara anggota kelompok mengenai cara-cara bertingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok bila mereka berhadapan dengan situasi yang berkaitan dengan kehidupan kelompok.
Pada setiap masyarakat sebenarnya ada nilai-nilai yang dipegang oleh para angotanya dan terwujud dalam pola tingkah laku masyarakat atau dalam sistem norma sosial. Masing-masing kelompok atau masing-masing masyarakat biasanya mempunyai norma yang berbeda-beda, hal ini biasanya disebabkan oleh
- faktor geografis
- status sosial
- faktor perbedaan tujuan kelompok.
Secara umum norma ada 2 yaitu norma tertulis dan tidak tertulis.
Ada beberapa alasan atau sebab mengapa seseorang memasuki atau bergabung dengan sebuah kemompok :
1. Tertarik pada individu di dalam kelompok tersebut
2. Tujuan kelompok dinilai sebagai tujuan yang bermanfaat
3. Ingin berinteraksi dengan individu lain
4. Aktivitas yang dilakukan kelompok merupakan aktivitas yang menarik
5. Agar dapat mencapai tujuan sekunder.
Hasil dari semua kekuatan yang ada pada anggota kelompok untuk tetap tingal dalam kelompok atau untuk meninggalkan kelompok disebut Kepaduan Kelompok (Group Cohesiveness), (Festinger, 1950).
Tahap-tahap Terbentuknya Kelompok (Tuckman, 1965 dan Have 1976) adalah :
1. Fase Forming
Yaitu suatu fase dimana anggota kelompok harus mencoba menemukan sifat dan batasan tugas dan memperhatikan tingkah laku orang lain atau anggota lain.
2. Fase Storming
Pada fase ini ditandai adanya ketegangan dan seringkali dijumpai adanya konflik diantara anggota kelompok. Hal ini terjadi karena masing-masing anggota nenunjukkan kepentingannya masing-masing.
3. Fase Norming
Dalam fase ini mulai ada proses yang lancar, mulai ada saling pengertian dan harmonis, mulai terbentuk kepaduan dimana anggota saling menerima satu sama lain, mulai mengembangkan struktur kelompok dan peranan anggota dalam kelompok. Interaksi yang terjadi ditandai saling hormat.
4. Fase Performing
Orientasi kelompok pada fase ini sudah memusat pada tugas dan tujuan.
Seiring dengan terbentuknya kelompok, maka akan terbentuk pula kohesivitas kelompok. Menurut Sherif & Sherif (1969), indikator kohesivitas kelompok adalah :
1. Interpersonal attractiveness. Yaitu ketertarikan terhadap anggota kelompok.
2. Attractives of the group. Yaitu ketertarikan seseorang terhadap kelompok, misalnya ada rasa bangga dengan kelompok.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepaduan kelompok :
1. Penderitaan / siksaan bersama
2. Gaya kepemimpinan
3. Jumlah anggota
4. Kesuksesan kelompok dalam merealisir tujuan
5. Ancaman dari luar
Konformitas
Konformitas adalah menyerahnya seseorang untuk menerima tekanan kelompok. Berlawanan dengan perilaku konformitas maka ada perilaku yang berlawanan yaitu perilaku non-konformis.
Ada 2 tipe parilaku non-konformis :
1. Anti konformitas
Terjadi bila seseorang justru mempunyai pendapat, sikap, atau perilaku yang berbeda atau berlawanan dengan kelompok.
2. Independent
Perbedaan independen dengan anti konformitas adalah seseorang melakukan atau mempunyai sikap yang berbeda dengan tidak terpengaruh oleh orang lain tetapi karena memang sesuai dengan isi pikirannya.
Sikap atau perilaku non-konformis bisa disebabkan oleh :
1. Reactance (penolakan)
Terjadi karena individu merasa kebebasan dirinya dirampas melalui tekanan konformitas. Teori ini pertama kali disampaikan oleh Brahm (1966).
2. Mencari perhatian
Pada umumnya orang yang meminta perhatian terhadap lingkungan terlalu berlebihan dan apabila lingkungan tidak memberikan hal tersebut akan berakibat orang tersebut menjadi non konformis.
3. Ingin menjadi unik
Menurut Maslach (1982) bahwa orang yang menilai tinggi keunikan cenderung menolak konformitas. Selain itu ada sejumlah orang yang memang senang apabila dirinya bisa menjadi beda dengan kebanyakan orang, eksklusif.
4. De-individuation
Yaitu seseorang yang tidak mempunyai tanggung jawab pribadi karena berada dalam situasi kelompok. De-individuasi bisa mendorong orang untuk tidak konform dengan kelompoknya karena orang tidak di kenal identitasnya. Orang itu akan merasa lebih bebas melakukan segala sesuatu menurut kehendaknya. Dengan tanpa identitas diri ia merasa lebih mudah untuk melepas tanggung jawab yang sebenarnya ditanggung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar